China Kian Dominan di Daftar Orang Kaya Global

Kekayaan pribadi di seluruh dunia mencapai US$201,9 triliun pada tahun lalu, naik 12% dari tahun sebelumnya.
Dwi Nicken Tari | 18 Juni 2018 20:33 WIB
Kapal pesiar mewah S.S. Joie de Vivre Uniworld Boutique River Cruise (Uniworld) melintasi Sungai Seine. - Bisnis/Uniworld

JAKARTA – Kekayaan pribadi di seluruh dunia mencapai US$201,9 triliun pada tahun lalu, naik 12% dari tahun sebelumnya dan merupakan laju tahunan tercepat dalam 5 tahun terakhir.

Boston Consulting Group menyatakan dalam laporan terbarunya, hal itu ditopang oleh meningkatnya peruntungan di dalam pasar ekuitas. Selain itu, investor dari luar AS juga diuntungkan dari bonus nilai tukar penguatan mata uang utama dunia di hadapan greenback.

Laporan tersebut mencatat, jajaran pertumbuhan jutawan dan miliarder kini memegang hampir setengah dari kekayaan pribadi global, naik dari 45% pada 2012.

Di Amerika Utara, yang memiliki jumlah kekayaan sebesar US$86,1 triliun, sebanyak 42% aset yang dapat diinvestasikan dipegang oleh orang-orang yang memiliki aset lebih dari US$5 miliar.

Adapun aset yang dapat diinvestasikan termasuk ekuitas, dana investasi, tunai, dan obligasi.

”Fakta bahwa kekayaan dipegang oleh para jutawan semakin meningkat bukan berarti yang miskin menjadi semakin miskin,” kata Anna Zakrzewski, penulis utama laporan tersebut, seperti dikutip Bloomberg, Senin (18//6/2018).

Dia menjelaskan, hal tersebut alih-alih berarti semua orang menjadi semakin kaya. Namun, khususnya bagi orang kaya bisa menjadi semakin kaya dengan cepat.

Adapun pemenang tahun lalu adalah China, Zakrzewski  melanjutkan, yang kini berada di peringkat kedua dalam hal kekayaan finansial setelah memacu Jepang dalam 5 tahun terakhir.

“China akan terus melanjutkan pengalaman dengan pertumbuhan yang sama seperti sebelumnya dan bahkan untuk 5 tahun ke depan, akan ada lebih banyak kekayaan terbentuk di China lebih dari AS,” ujar Zakrzewski  dengan menambahkan bahwa jumlah jutawan di Negeri Panda diperkirakan bakal tumbuh empat kali lebih cepat ketimbang di AS.

Namun, tanpa dorongan dari pelemahan dolar AS, perolehan kekayaan global hanya akan berada di level  7%. Adapun negara-negara yang diuntungkan dari apresiasi mata uangnya adalah Eropa Barat, di mana penguatan dolar AS sebesar 15% merosot menjadi 3% terhadap mata uang lokal.

Sementara itu, Eropa Timur dan Asia Tengah juga memiliki konsentrasi kekayaan terbesar, dengan miliarder saja memegang hampir seperempat dari aset yang dapat diinvestasikan.

Sebanyak 28 orang miliarder dari Eropa Timur di dalam Bloomberg Billionaires Index tercatat memiliki nilai bersih sebesar US$294 miliar, dengan memasukkan kenaikan sebanyak US$3,4 sepanjang 2018 sejauh ini.

Di Asia, kekayaan juga terkonsentrasi di Hong Kong, di mana perorangan yang memiliki lebih dari US$20 miliar memegang 47% aset yang dapat diinvestasikan.

Jika pembentukan kekayaan pribadi terus berlanjut dengan kecepatan beberapa tahun terakhir ini, Boston Consulting memperkirakan gabungan tingkat pertumbuhan secara tahunannya dapat mencapai sekitar 7% dari 2017 hingga 2022, dalam dolar AS.

Peristiwa seperti koreksi pasar keuangan dan ketidakpastian geopolitik dapat menekan pencapaian tersebut menjadi 4%.

Sementara itu, laporan tersebut mencatat, dalam skenario yang lebih buruk seperti krisis ekonomi, kekayaan global mungkin dapat melemah hingga 1% dalam 5 tahun.

Tag : orang kaya
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top