Mantan Pelaku Terorisme: Keluarga Dita Supriyanto Radikalisasi Usia Dini

Mantan Pelaku Terorisme Ali Fauzi Manzi berpandangan bahwa proses radikalisasi terhadap anak-anak di keluarga teroris dilakukan melalui proses panjang dengan menggunakan cara yang sangat efektif.
Rahmad Fauzan | 18 Mei 2018 01:58 WIB
Kapolrestabes Surabaya Rudi Setiawan menunjukkan foto keluarga Dita Upriyanto saat penggerebekan rumah terduga teroris di kawasan Wonorejo Asri, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). - ANTARA/Nanda Andrianta

Bisnis.com, JAKARTA -- Mantan Pelaku Terorisme Ali Fauzi Manzi berpandangan bahwa proses radikalisasi terhadap anak-anak di keluarga teroris dilakukan melalui proses panjang dengan menggunakan cara yang sangat efektif.

"Yang dilakukan oleh Dita Supriyanto sekeluarga bukan bimsalabim. Tentu keluarga ini sudah melakukan yang namanya radikalisasi usia dini," ujar Ali Fauzi dalam diskusi publik bertajuk Memutus Rantai Terorisme yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Aksi teror yang melibatkan anak-anak memang perlu menjadi perhatian utama. Terutama, karena ada kemungkinan bahwa anak-anak belum begitu mengerti tentang konsep terorisme. Namun, Ali Fauzi tidak menyangkal bahwa tidak semua anak-anak tidak paham mengenai konsep terorisme ketika mereka melakukan aksi teror.

"Baik bagi anaknya yang laki-laki, maupun anaknya yang perempuan, tentu mereka sudah paham. Saya yakin," ujar Ali Fauzi terkait dengan keterlibatan anak-anak di keluarga Dita Supriyanto dalam aksi teror di Surabaya beberapa waktu yang lalu.

Dia mengatakan, untuk keluarga Dita Supriyanto, mereka sudah paham dengan apa yang mereka lakukan. "Mereka tentu ada perpisahan. Dialog-dialog mengenai perihal pertemuan terakhir tersebut merupakan bagian dari ideologi yang mereka punyai," ujarnya dalam diskusi publik bertajuk Memutus Rantai Terorisme yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Gedung LIPI, Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Keluarga dengan tipikal serupa seperti keluarga Dita Supriyanto, lanjutnya, di dalam beragama, mereka sudah overdosis.

"Islam itu di tengah-tengah. Kalau terlalu berlebihan, berbahaya. Saya tidak setuju, hanya karena segelintir orang, Islam mendapat stigma," ujarnya.

Ali mengatakan Islam toleran jumlahnya lebih banyak dari Islam teroris.

Dia pun juga mengakui bahwa semua hal yang menyangkut masalah ideologi memiliki level pemahaman yang sudah sangat sulit. "Kecuali punya trik-trik tertentu," lanjutnya.

Tag : terorisme
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top