Bank Sentral Eropa Bergerak Perlahan Ketatkan Stimulus

Bank Sentral Eropa (ECB) menepati janji mereka untuk bergerak perlahan dalam pengetatan stimulus di Zona Euro.
Dwi Nicken Tari | 27 April 2018 03:32 WIB
Kantor pusat Bank Sentral Eropa di Frankfurt, Jerman. - Reuters/Alex Domanski

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Sentral Eropa (ECB) menepati janji mereka untuk bergerak perlahan dalam pengetatan stimulus di Zona Euro.

Dalam rapat kebijakan ECB pada Kamis (26/4/2018) di Frankurt, para pejabat ECB mengumumkan mereka setuju untuk mempertahankan kebijakan moneter saat ini.

Hal ini memberikan ruang bagi Gubernur ECB Mario Draghi untuk mempertimbangkan kekhawatiran pelemahan ekonomi Zona Euro. Pasalnya, rilis data ekonomi di sepanjang kuartal I/2018 melemah dan tidak sesuai dengan perkiraan.

Para pembuat kebijakan juga menegaskan kembali, mereka akan terus membeli aset obligasi sebesar 30 miliar euro (US$36 miliar) per bulan hingga setidaknya akhir September 2018.

Selain itu, program pelonggaran kuantitatif akan dipertahankan pengukurannya hingga target inflasi tercapai. ECB juga berharap dana pinjaman berada tetap di level saat ini, setidaknya hingga program pembelian obligasi berakhir.

Adapun tiga suku bunga ECB juga tetap tidak berubah, yaitu tingkat suku bunga deposito 0,4%, tingkat pendanaan umum 0%,, dan tingkat pinjaman marjinal 0,25%.

Institusi keuangan yang berbasis di Frankurt tersebut juga menegaskan kembali bahwa mereka masih mendukung pembelian kembali utang jatuh tempo lewat kebijakannya.

Sementara itu, kini perhatian tertuju kepada konferensi pers oleh Draghi pada pukul 2.30 siang waktu Frankurt.

Adapun mata uang euro tetap stabil setelah keputusan tersebut diumumkan, menguat tipis 0,1% pada US$1,2178 pada pukul 1.47 siang waktu Frankurt.

Keputusan ECB yang tidak mengubah apa pun ini muncul beberapa hari setelah Draghi menyampaikan dalam pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) di Washington pekan lalu, bahwa sementara ini pertumbuhan Zona Euro mungkin terlalu panas kendati ekspansi ekonominya masih terus berlanjut.

“Di samping indikator ekonomi baru-baru ini, yang memperlihatkan siklus pertumbuhan akan mencapai puncaknya, momentum pertumbuhan diperkirakan masih akan berlanjut,” ujar Draghi pekan lalu seperti ditulis kembali oleh Bloomberg pada Kamis (26/4/2018).

Kini, kunci utama yang dihadapi orang nomor satu di ECB itu adalah apakah momentum saat ini dapat menopang situasi ketika ECB menghentikan program pembelian obligasinya pada akhir tahun ini.

Pasalnya, kekhawatiran mulai tumbuh terkait risiko yang dibawa oleh friksi perdagangan global dan penguatan euro. Hal itu diperkirakan dapat mengancam pertumbuhan ekonomi kawasan yang sangat bergantung dengan kinerja ekspor tersebut.

“Kami berharap Draghi mengesampingkan risiko pemulihan ekonomi sementara tetap waspada bahwa perlambatan ekspansi dapat terjadi sewaktu-waktu. Namun, risiko tetap akan menjadi kejutan dovish,” kata Jamie Murray dan David Powell, ekonom Bloomberg.

Sementara itu, inflasi masih berada di bawah target bank sentral dan telah direvisi menjadi 1,3% pada Maret dari perkiraan sebelumnya 1,4%.

Adapun, pejabat ECB melihat ada ruang untuk menunggu hingga rapat kebijakan selanjutnya (Juli 2018) untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai penghentian program pembelian obligasi.

Seorang sumber yang tidak ingin disebutkan identitasnya menambahkan perlu waktu untuk menilai apakah ekonomi dapat membaik setelah perlambatan di kuartal I/2018.

Adapun ekonom yang disurvei Bloomberg tidak memperkirakan pembuat kebijakan akan membuat perubahan dalam stimulus moneternya hingga secepatnya pada Juni.

Sementara beberapa responden lainnya tetap memperkirakan bahwa pembelian aset akan dihentikan pada Juli atau September.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ecb

Sumber : Bloomberg
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top