Laba Facebook Lampaui Estimasi, Tak Terpengaruh Kasus Kebocoran Data Pengguna

Saham Facebook Inc. menguat, setelah jaringan media sosial itu melaporkan peningkatan laba yang tak terduga sebesar 63% di sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Angka tersebut juga melebihi estimasi analis.
Dwi Nicken Tari | 26 April 2018 17:40 WIB
Facebook - Reuters/Robert Galbraith

Kabar24.com, JAKARTA – Saham Facebook Inc. menguat, setelah jaringan media sosial itu melaporkan peningkatan laba yang tak terduga sebesar 63% di sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Angka tersebut juga melebihi estimasi analis.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I/2018, kenaikan laba tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan sebesar 49% menjadi US$11,97 miliar, di atas perkiraan analis sebesar US$11,41 miliar.

Pertumbuhan pendapatan itu melebihi kenaikan beban biaya sebesar 39% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bisnis periklanan lewat ponsel (mobile ad) pun tetap berhasil menarik minat pengiklan untuk menyediakan iklan digital dalam bentuk konten video.

Adapun pengguna aktif bulanan pada kuartal pertama naik 13% menjadi 2,2 juta pengguna aktif, sejalan dengan perkiraan Thomson Reuters I/B/E/S.

Saham Facebook pun diperdagangkan menguat 7,1% ke level US$171 pada perdagangan Rabu (25/4), memangkas penurunan selama sebulan sejak terungkapnya kasus pencurian data Facebook oleh konsultan Cambridge Analytica. Ternyata, tidak ada indikasi bahwa isu itu dapat mengubah keputusan dan rencana dari para pengiklan.

"Semua orang masih membicarakan betapa buruknya skandal yang menimpa Facebook. Namun laporan pendapatan ini sangat positif, menegaskan Facebook baik-baik saja, dan semua ini akan terlewati," kata Daniel Morgan, Manajer Senior Portofolio di Synovus Trust Company yang memegang sekitar 73.000 lembar saham di Facebook, seperti dikutip Reuters, Kamis (26/4/2018).

Facebook, yang mendapatkan sebagian besar pendapatannya lewat penjualan iklan yang diatur sesuai minat penggunanya, telah memperlihatkan dalam beberapa kuartal belakangan bagaimana mereka mempertahankan model bisnisnya.

Selain itu, Facebook juga meyakinkan penggunanya bahwa mereka akan menambah anggaran pengeluaran perusahaan tahun ini.

Kepala Staf Keuangan Facebook, David Wehner menyatakan kepada analis bahwa pengeluaran tahun ini akan tumbuh di antara 50% dan 60%, naik dari kisaran sebelumnya di 45%-60%.

"Kebanyakan dari pengeluaran itu akan digunakan untuk perlindungan dan keamanan," ujar Wehner.

Wehner menambahkan, anggaran itu termasuk untuk mendanai upaya perusahaan untuk memberantas akun palsu, ujaran kebencian, dan video kekerasan.

Selain itu, meningkatnya jumlah pengguna juga memperlihatkan bisnis millik Mark Zuckerberg tersebut tidak terkena dampak berarti dari skandal bocornya data pengguna bulan lalu. Kala itu, sebanyak 87 juta data pengguna Facebook bocor ke perusahaan periklanan Cambridge Analytica yang mendukung kampanye Presiden AS Donald Trump pada Pemilu AS 2016.

Hal itu mencerminkan perusahaan telah berhasil membendung penurunan pengguna aktif harian di Amerika Serikat dan Kanada pada kuartal sebelumnya. Facebook mengumumkan secara total mereka memiliki 185 juta pengguna di dua negara itu di sepanjang kuartal I/2018, naik dari 184 pengguna pada kuartal IV/2017.

Dari laporan kuartalan ini, dapat dilihat sisi positif Facebook setelah pekan-pekan penuh berita headline negatif terkait kinerja perusahaan dalam mengatur informasi pengguna dan konten kekerasan serta keterlibatan perusahaan dalam Pemilu AS.

"Selama laba terus bertumbuh dengan kecepatan pesat, investor akan menyetujui peningkatan pengeluaran untuk menjamin privasi," kata Michael Pachter, analis di Wedbush Securities.

Hingga kini, telah dua tahun berlalu sejak saham Facebook naik menjadi 7% lebih dalam perdagangan. Saham mereka sempat tumbuh 7,2% pada 28 April 2016, sehari setelah laporan pendapatan kuartal I pada tahun itu.

Kedepannya, regulasi yang ketat untuk sektor teknologi dapat membuat periklanan di Facebook menjadi kurang menarik. Pasalnya, hal itu dapat membuat pengurangan bentuk data yang digunakan untuk mengatur dan menargetkan iklan untuk pengguna Facebook.

Kendati demikian, ukuran Facebook masih dapat menopang posisi mereka untuk bekerjasama dengan regulator.

Berdasarkan riset eMarketer, Facebook dan Google milik Alphabet Inc. bersama akan mendominasi kepentingan pebisnis iklan di seluruh dunia. Facebook diperkirakan akan mengambil sebesar 19% pendapatan dari periklanan digital global tahun ini dan Google sebesar 31%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
facebook

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top