IMPOR DOSEN ASING : Pemerintah Harus Selektif

Apabila dilaksanakan, langkah mengimpor dosen luar negeri (asing) harus dilakukan secara selektif. Dosen asing yang diimpor ke Indonesia pun harus memiliki kualitas lebih tinggi dari tenaga pengajar lokal.
Newswire | 18 April 2018 17:37 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Wacana mendatangkan dosen asing untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional agar setara dengan kualitas internasional ditanggapi Ketua DPR.

Bambang Soesatyo, Ketua DPR RI, menyatakan apabila dilaksanakan, langkah mengimpor dosen luar negeri (asing) harus dilakukan secara selektif. Dosen asing yang diimpor ke Indonesia pun harus memiliki kualitas lebih tinggi dari tenaga pengajar lokal.

"Selain itu memiliki masa waktu tertentu dan juga harus memberikan nilai tambah bagi kemajuan pendidikan bangsa," katanya di Jakarta, Rabu (18/4/2018).

Hal itu dikatakan Bamsoet, nama populer Ketua DPR RI, ketika menerima Mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Priscilla Daniego Pahlawan (30). Pia, nama panggilan Priscilla, menjadi juara kedua lomba karya ilmiah tingkat Asia di Global Clinical Case Contest 2017/2018.

Sebelumnya, Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Riset Dikti) Mohamad Nasir mengatakan, Indonesia memerlukan 200 tenaga dosen asing agar masuk reputasi dunia di bidang pendidikan.

Menurut Bambang, kemenangan Pia adalah salah satu bukti dosen dalam negeri tidak kalah dengan dosen luar negeri.

"Ini merupakan kemenangan seluruh Bangsa Indonesia yang patut kita apresiasi sehingga dapat menjadi motivasi bagi generasi selanjutnya," kata Bambang.

Ia menyatakan bangga atas prestasi yang diraih Pia di tingkat Asia Pasifik dan hal itu telah mengukir sejarah bahwa Indonesia dalam bidang medis, khususnya, tidak kalah dengan negara lain serta sudah diperhitungkan oleh masyarakat internasional.

"Apalagi Pia, setelah ini berhak mewakili Asia di forum sejenis tahun ini pada tingkat dunia di Jerman," kata Bambang.

Bambang mengharapkan prestasi yang baru saja diraih Pia akan dilanjutkan dengan kemenangan di kejuaraan dunia pada pertengahan tahun ini di Jerman dan ilmu yang didapat akan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas dan memajukan dunia kedokteran gigi di Indonesia.

Pia saat mengikuti ajang itu didampingi seorang dosen pembimbing yakni Drg Taofik Hidayat Sp KG (K). Ketika mengikuti lomba pada Kamis (12/4) di Singapura, Pia membawakan tema The Digital Smile Design dengan judul Memperbaiki gigi geligi rahang atas dengan direct komposit dengan ceram X speretec universal (Improving upper front teeth direct composite restoration with Ceram X Spheretec Universal).

Total peserta dari berbagai negara Asia waktu itu sebanyak 129 tim. Dari jumlah tersebut, lima perwakilan dari lima negara berhasil masuk dalam lima besar yakni dari Malaysia, Indonesia, Filipina, Taiwan dan Thailand. Tiga besar ini berhak mewakili Asia di tingkat dunia pada tahun ini.

Pia masuk Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (FKG Unpad) pada 2006. Pada 2010, ia mendapatkan gelar sarjana kedokteran gigi. Tahun 2011, ia memulai koas atau pendidikan program profesi dan menyelesaikannya pada 2013 dengan IPK tertinggi yaitu 4,00.

Pada 2012, Pia sempat menjadi salah seorang perwakilan dari Indonesia dan Unpad dalam Asia Pasific Dental Student Association di Australia. Pia sehari-hari berpraktik di Rumah Sakit Gigi Mulut (RSGM) Unpad.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dosen

Sumber : Antara
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top