Politeknik Negeri Jakarta Dorong Kerja Sama dengan Korporasi

PNJ membuka pintu kerja sama dengan berbagai perusahaan yang terkait dengan berbagai displin ilmu yang dimiliki institusi pendidikan tinggi tersebut, khususnya teknik mesin.
Yoseph Pencawan | 13 April 2018 01:58 WIB
Ketua Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Jakarta, Muslimin. - JIBI/Yoseph Pencawan

Bisnis.com, JAKARTA - Politeknik Negeri Jakarta membuka pintu kerja sama dengan berbagai perusahaan yang terkait dengan berbagai displin ilmu yang dimiliki institusi pendidikan tinggi tersebut, khususnya teknik mesin.

Ketua Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) Muslimin yakin kerja sama tersebut diperlukan kedua pihak. PNJ mempersiapkan SDM yang memiliki kualifikasi yang diperlukan oleh perusahaan atau industri.

"Seperti kerjasama yang belum lama ini kami jalin dengan Garuda Maintanance Facility (GMF) untuk pemeliharaan mesin pesawat," ujarnya pada Kamis (12/4/2018).

Dia menjelaskan beberapa tahun terakhir, PT GMF AeroAsia Tbk. Merangkul beberapa institusi pendidikan tinggi untuk menyiapkan SDM yang dibutuhkan dalam pengoperasian fasilitas maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat.

Mereka di antaranya Politeknik Negeri Medan, Politeknik Negeri Sriwijaya, Politeknik Negeri Bandung, Politeknik Negeri Surabaya, dan Politeknik Negeri Jakarta.

Kerja sama GMF dengan Politeknik Negeri Jakarta sudah berjalan dua angkatan. Yang pertama, mahasiswanya ada 24 orang dan kedua, 20 orang. Dalam kerja sama ini, semua lulusan akan direkrut GMF.

Menurut dia, kerja sama itu diperlukan oleh kedua pihak karena kebutuhan teknisi pesawat semakin besar dan di negara-negara lain, Aircraft Mentainance Training Organization (AMTO) berada di sekolah-sekolah vokasi. Oleh sebab itu, GMF pun mengambil inisiatif seperti itu dengan menyerahkan pendidikan SDM-nya ke politeknik-politeknik negeri.

Untuk melakukan program ini tidak sembarangan. Selain harus mempunyai sertifikat dosen, para pengajarnya juga harus memiliki sertifikat dari AMTO. AMTO sendiri mensyaratkan begitu banyak aspek yang harus dipenuhi oleh institusi pendidikan teknisi , termasuk adanya fasilitas hanggar dan unit pesawat.

"Karena kami belum punya, untuk sementara, kuliahnya tetap di sini kemudian yang berhubungan dengan praktik, di GMF."

Kemudian jajaran pengajarnya pun dibantu oleh GMF, terutama yang berhubungan dengan teknikal pesawat. Lalu, karena harus mempunyai sertifikat, para pengajar mata kuliah dasar pun harus pernah mengikuti training of trainer (ToT) di GMF.

Pada jurusan lain, mata kuliah umum biasanya diajarkan oleh dosen biasa, tetapi untuk program ini pengajarnya harus pernah mengikuti ToT di GMF.

Pada tingkat lanjut, para teknisi pesawat sebenarnya terspesialisasi berdasarkan merek dan tipe pesawat, tetapi pendidikan yang dilakukan pada program ini adalah pada pemeliharaan secara umum atau Basic Aircraft Maintenance (BAM).

Namun demikian, dalam pelaksanaan pendidikan para mahasiswa calon teknisi pesawat di PNJ tetap harus menjalani perkuliahan dari pagi sampai sore secara marathon.

Perlakuan khusus juga diberikan dalam proses pendidikannya dibandingkan dengan mahasiswa jurusan lain, misalnya bangku khusus yang memiliki alat tambahan, berseragam, dan sebagainya.

Berbeda juga dengan yang lain yang hanya mendapatkan satu ijazah, setelah lulus mereka akan mengantongi dua sertifikat, yakni sertifikat Diploma-3 dari PNJ dan sertifikat AMTO yang diterbitkan oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan.

"Total waktu mereka pendidikan secara teori dan praktek yang disyaratkan sebenarnya selama 3.000 jam. Namun ditambah dengan Diploma-3, durasi waktu pendidikannya itu menjadi lebih lama," kata Muslimin.

Untuk dapat menjadi peserta dari pendidikan teknisi ini, para calon mahasiswa harus mengikuti ujian khusus dan beberapa hal yang sebelumnya wajib dipenuhi adalah tidak buta warna dan menguasai bahasa Inggris.

Penguasaan bahasa Inggris mutlak dimiliki para calon teknisi karena seluruh literatur dan petunjuk yang terkait dengan permesinan pesawat belum ada yang berbahasa Indonesia, tetapi umumnya berbahasa Inggris.

Muslimin menjelaskan sebelum menggandeng GMF, Jurusan Teknik Mesin PNJ sudah menjalin kerja sama dengan tiga perusahaan besar lain yakni PT Trakindo Utama, PT Holcim Indonesia Tbk., dan PT Badak Natural Gas Liquefaction (Badak NGL).

Menurut Direktur Politeknik Negeri Jakarta Abdillah, kerja sama dengan Trakindo sudah berjalan lebih dari 13 tahun dan direalisasikan melalui Program Studi Alat Berat.

Kerja sama dengan Holcim pun sudah berlangsung 13 tahun dan diimplementasikan dalam pengayaan teknik perawatan mesin. Namun, PNJ sudah berencana pengayaan ini ke depan menjadi program studi sendiri yang bernama Teknik Industri Pengolahan Semen.

"Teknik mesin mempunyai tiga pengayaan, yang pertama teknik produksi, kemudian teknik perancangan dan ketiga teknik perawatan. Nah, teknik perawatan ini khususnya mesin-mesin industri," ucap Abdillah.

Sementara kerja sama dengan Badak NGL sudah berjalan pada angkatan kedelapan. Kerja sama ini meliputi rotating, electrical, serta pengolahan gas yang dilaksanakan melalui teknik konversi energi.

Dalam kerja sama dengan Holcim dan Badak NGL, seluruh biaya pendidikan dan biaya hidup para mahasiswa ditanggung kedua perusahaan tersebut.

Tag : pendidikan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top