Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inilah Pengusiran Diplomat Rusia Terbesar dalam Sejarah

PM Inggris Theresa May mulai membahas dengan para menteri kabinetnya keberhasilan menggalang solidaritas dunia untuk mengusir sedikitnya 130 diplomat Rusia.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 27 Maret 2018  |  15:00 WIB
Polisi berdiri di depan pub Mill setelah inspektur dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW) tiba untuk mulai bekerja di tempat serangan agen saraf pada mantan agen Rusia Sergei Skripal, di Salisbury, Inggris 21 Maret 2018. - Reuters
Polisi berdiri di depan pub Mill setelah inspektur dari Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW) tiba untuk mulai bekerja di tempat serangan agen saraf pada mantan agen Rusia Sergei Skripal, di Salisbury, Inggris 21 Maret 2018. - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA—PM Inggris Theresa May mulai membahas dengan para menteri kabinetnya keberhasilan menggalang solidaritas dunia untuk mengusir sedikitnya 130 diplomat Rusia.

Menurutnya, solidaritas itu muncul setelah upaya pembunuhan agen ganda Rusia Sergei Skripal dan puitrinya, Yulia di Inggris gagal dengan menggunakan racun saraf .

Akibatnya lebih dari 130 diplomat Rusia diusir di seluruh dunia atau yang terbesar dalam sejarah setelah insiden yang terjadi di Salisbury, Inggris tersebut.

Agen mata-mata Rusia diduga beroperasi di antaranya di Kanada, Ukraina, Albania, Macedonia dan sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat.

AS pun lantas mengusir 60 dipolomat  Rusia atau yang terbanyak dari sejumlah negara tersebut.

Hingga kini sekitar 23 negara telah mengambil langkah pengusiran diplomat Rusia menyusul langkah Inggris sebagaimana dikutip news.sky.com, Selasa (27/3).

Dari 130 diplomat Rusia yang harus segera angkat koper dari 23 negara di seluruh dunia, 16 negara di antaranya merupakan anggota Uni Eropa (UE).

AS menjadi negara terbanyak dengan mengumumkan 60 diplomat Rusia dan 48 dari total diplomat yang diusir bekerja di Kedutaan Besar Rusia di Washington.

Sedangkan sisanya merupakan staf di markas besar PBB di New York.

Dalam pidatonya di Majelis Rendah Parlemen Inggris, Perdana Menteri Theresa May berkata kalau solidaritas telah ditunjukkan oleh UE, maupun anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Dia menyebut aksi tersebut merupakan pengusiran kolektif  terhadap agen rahasia Rusia terbesar dalam sejarah.

"Bersama, kita telah menyebarkan pesan bahwa kita tidak akan membiarkan Rusia mencemooh hukum internasional merendahkan kedaulatan kita," kata May.

Sementara itu, Rusia menyatakan kalau mereka tidak ada sangkut pautnya dengan percobaan pembunuhan terhadap Skripal dan putrinya Yulia.

"Sikap provokatif dari negara-negara yang mengikuti Inggris tanpa memandang duduk persoalan sebenarnya hanya akan mengeskalasi konfrontasi," menurut pernyataan Kemenlu Rusia melalui pernyataan resminya.

Sebelumnya, Skripal dan putrinya ditemukan dalam kondisi tidak sadar pada sebuah bangku di Salisbury (4/3/2018).

May menuduh Kremlin pelakunya setelah mereka menemukan senyawa bernama Novichok dalam tubuh keduanya.

Novichok adalah racun saraf yang diklaim paling mematikan, dan dibuat di era Uni Soviet pada 1970-an.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rusia diplomat spionase
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top