Alibaba Siap Pulang Ke China

Raksasa teknologi e-commerce, Alibaba Group Holding Ltd, berencana mendaftarkan sahamnya di bursa China lewat Depository Receipts (DRs). Unit dari Thomson Reuters, IFR, melaporkan bahwa Alibaba akan melakukan pendaftaran itu secepatnya pada pertengahan tahun ini.
Dwi Nicken Tari | 23 Maret 2018 15:56 WIB
Alibaba - alibabagroup.com

Bisnis.com, JAKARTA — Raksasa teknologi e-commerce, Alibaba Group Holding Ltd, berencana mendaftarkan sahamnya di bursa China lewat Depository Receipts (DRs). Unit dari Thomson Reuters, IFR, melaporkan bahwa Alibaba akan melakukan pendaftaran itu secepatnya pada pertengahan tahun ini.

Seorang sumber yang tidak ingin disebutkan identitasnya mengatakan  rencana pendaftaran saham Alibaba di China saat ini belum menetapkan harga, tetapi perkiraannya akan mencapai lebih dari 10 miliar yuan (US$1,58 miliar).

Sebelumnya Alibaba telah berulang kali mengatakan bahwa mereka terbuka untuk pendaftaran saham di China jika ada regulasi yang jelas. Perusahaan teknologi dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar US$473 miliar tersebut, saat ini masih terdaftar di bursa Paman Sam.

“Sejak penawaran saham perdana (IPO) kami di AS, kami telah menyampaikan jika ada regulasinya, maka kami mempertimbangkan untuk mendaftar di China,” kata Alibaba beberapa waktu yang lalu, seperti dikutip Reuters, Jumat (23/3/2018).

Adapun, pendaftaran saham seperti kasus Alibaba ini akan menggunakan aturan  China Depositary Receipts (CDRs), sama seperti American Depositary Receipts, yaitu berupa sertifikat yang mengizinkan investor memegang saham terdaftar di mana saja.

“Aturan baru dalam CDRs akan diperkenalkan secepatnya di akhir bulan depan,” kata seorang sumber Reuters.

Adapun, China tengah mengupayakan untuk membujuk raksasa teknologi Negeri Panda yang mendaftarkan sahamnya di luar negeri atau offshore, seperti Alibaba, untuk mendaftar di bursa domestik. Hal itu dilakukan agar para investor memiliki akses terhadap perusahaan-perusahaan teknologi besar dan mendorong perekonomian China.

Pasalnya, perusahaan-perusahaan teknologi asal China telah banyak yang mendaftarkan sahamnya di luar negeri atau di Hong Kong.  Bahkan, dengan reli yang melebihi 200% oleh Weibo Corp., Alibaba dan Sina Corp., mereka telah memberikan keuntungan bagi trader di New York. Sementara China hanya bisa memandang indeks Nasdaq Composite mencatatkan rekor, mencapai 73% setelah posisi terendahnya pada Februari 2016 dari kejauhan.

Oleh karena itu, regulator keamanan China akan segera memfinalisasi pedoman CDRs di semester kedua tahun ini. 

Rencana China untuk mengizinkan CDRs sama dengan membuka pintu bagi raksasa teknologi Negeri Panda lainnya yang mendaftar di luar negeri, termasuk JD.com Inc., Tencent Holdings Ltd., Baidu Inc., Weibo Corp., dan Sogou Inc. untuk kembali pulang.

Hao Hong, chief strategist Bocom International Holdings Co., di Hongkong menilai telah ada perubahan dalam kebijakan Negeri Panda untuk menghadapi saham perusahaan teknologi.

“Prioritas penting dalam agenda para pembuat kebijakan adalah cara meyakinkan pengusaha muda dan pengembang teknologi agar dapat berkontribusi untuk perekonomian [domestik],” katanya.

Sun Jianbo, presiden direktur China Vision Capital menambahkan, jika China berhasil mendapatkan raksana seperti Tencent atau Alibaba kembali ke dalam negeri, maka pasar daratan Negeri Panda akan mendapat kemenangan besar. Sehubungan dengan investor di seluruh dunia memang banyak yang mengantri di belakang segala sesuatu yang berbau teknologi. (Reuters/Dwi Nicken Tari)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, alibaba

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top