Pemerintah Sri Lanka: Facebook Picu Kekerasan Kaum

Sri Lanka pada Kamis (16/3/2018) membuka kembali laman Facebook seusai menggelar perundingan dengan jaringan tersebut, setelah sepekan menutupnya karena menilai medan gaul itu digunakan untuk memicu kekerasan kaum.
Martin Sihombing | 16 Maret 2018 20:03 WIB
Ilustrasi Facebook. - Bloomberg/Chris Ratcliffe

Bisnis.com, KOLOMBO -  Sri Lanka pada Kamis (16/3/2018) membuka kembali laman Facebook seusai menggelar perundingan dengan jaringan tersebut, setelah sepekan menutupnya karena menilai medan gaul itu digunakan untuk memicu kekerasan kaum.

Sedikit-dikitnya dua orang tewas dalam bentrokan pada pekan lalu saat suku Sinhala Buddha, yang marah atas pembunuhan terhadap seorang pengemudi mobil dari suku tersebut oleh anggota kelompok kecil Muslim, menyerang sejumlah masjid dan bangunan di pusat distrik Kandy.

Sebagian dari gelombang kekerasan itu dimulai dengan muatan ancaman di Facebook, kata pemerintah, yang kemudian menutup jalur ke Facebook, Vider, dan WhatsApp pada 7 Maret.

Pada awalnya, pemerintah berencana hanya melakukan penutupan tiga hari, tetapi diperpanjang tanpa penjelasan.

"Sesuai dengan perintah saya, sekretaris kabinet telah berdiskusi dengan perwakilan dari Facebook, yang kemudian sepakat  media sosial itu tidak akan digunakan untuk menyebarkan ujaran kebencian dan memprovokasi kekerasan," kata Presiden Maithripala Sirisena di Twitter resminya.

Dia mengaku telah memerintahkan regulator telekomunikasi untuk mencabut pemblokiran sementara dengan segera.

Pemerintah sebelumnya mengatakan bahwa tindakan Facebook terhadap para pelaku penyebar ujaran kebencian selama ini terlalu lambat.

"Perwakilan Facebook sudah sepakat untuk mempercepat waktu respon (terhadap para penyebar ujaran kebencian)," kata Menteri Telekomunikasi Harin Fernando, yang terlibat dalam perundingan dengan Facebook, kepada Reuters.

"Kami telah membincangkan bagaimana kami bisa menciptakan mekanisme yang memastikan dan mempermudah penghapusan terhadap ujaran kebencian," kata dia.

Facebook dalam pernyataan tertulisnya membenarkan telah bertemu dengan pejabat pemerintah Sri Lanka untuk menjelaskan aturan komunitas mereka dan menyatakan komitmen untuk menghapus segala ujaran kebencian yang memprovokasi kekerasan.

"Kami punya aturan yang jelas untuk konten seperti itu, kami akan menghapusnya segera setelah kami mengetahuinya. Kami bangga terhadap layanan kami, dan senang aksesnya telah dibuka kembali," kata Facebook.

Sebelumnya, pemerintah Sri Lanka mencabut pemblokiran terhadap WhatsApp dan Viber pada awal pekan ini.

Ketegangan komunal di Sri Lanka terus berkembang sejak tahun lalu. Sebagian kelompok ekstrimis Buddha menuding kelompok minoritas Islam telah memaksa banyak orang untuk pindah agama, dan merusak situs arkeologis Buddha.

Tudingan itu dibantah oleh kelompok Muslim.

Pada Selasa, Fernando mengatakan bahwa pemerintah tidak bisa mengontrol ujaran kebencian dan berita palsu di Facebook oleh kelompok ekstrim kedua agama.

Kepolisian menyelidiki pendanaan asing terhadap 10 terduga pemimpin gelombang serangan dengan target masjid-masjid.

Jumlah Muslim di Sri Lanka sekitar sembilan persen dari 21 juta orang, sementara suku Sinhala -yang sebagian besar beragama Buddha- menyumbang 30 persen, dan sisanya warga Tamil.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
facebook

Sumber : ANTARA/REUTERS
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top