PSI Partai Anak Muda, Ada Apa dengan Sunny Tanuwidjaja?

Meski memiliki segmen pasar yang menarik kalangan anak muda, namun Partai Solidaritas Indonesia (PSI) masih kesulitan menyosialisasikan programnya, mengingat keterbatasan waktu hingga pemilu tahun depan.
John Andhi Oktaveri | 28 Februari 2018 14:42 WIB
Sunny Tanuwidjaja - Antara/Rosa Panggabean

Kabar24.com, JAKARTA — Meski memiliki segmen pasar yang menarik kalangan anak muda, namun Partai Solidaritas Indonesia (PSI) masih kesulitan menyosialisasikan programnya, mengingat keterbatasan waktu hingga pemilu tahun depan.

Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif IndoBarometer Muhammad Qodari mengatakan setidaknya PSI telah mencapai keberhasilan hingga lolos verifikasi sebagai peserta Pemilu 2019. Akan tetapi, keterbatasan waktu yang dimiliki untuk sosialisasi sebagai partai baru akan menjadi tantangan tersendiri bagi PSI.

Menurut Qodari masa kampanye baru mulai September 2018 hingga April 2019. Durasi waktu yang pendek ini akan sulit bagi PSI untuk mengenalkan program maupun figur calon pemimpinya. Dalam kondisi demikian, ambang batas 4% untuk lolos ke parlemen akan menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi partai yang didominasi anak muda tersebut.

“PSI memiliki segmen menarik untuk meraih suara pada Pemilu 2019, terutama bagi pemilh dari kalangan anak-anak muda,” ujarnya ketika dihubungi, Rabu (28/2/2018).

PSI merupakan parpol yang didominasi oleh kader berusia di bawah lima puluh tahun. Qodari menjelaskan selain faktor program kampanye, ketokohan atau figur juga menjadi sangat penting dalam memenangkan suara pemilih.

Sementara itu, hadirnya figur Sunny Tanuwidjaja dalam jajaran pengurusan PSI mulai menjadi perhatian publik dengan segala kontroversinya. Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni justru mempertanyakan pihak yang mempermasalahkan mantan staf Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ketika menjadi Gubenur DKI Jakarta tersebut.

"Nama Sunny sudah ada di dokumen struktur kepengurusan PSI sejak lama. Dokumen itu adalah dokumen publik. Dokumen itu sudah menyebar dari dulu. Jadi bukan struktur kepengurusan baru," kata Antoni.

Apalagi, ujar Antoni, semua pengurus PSI ketika mengurus Surat Keterangan Domisili (SKD) untuk syarat verifikasi pasti menggunakan dokumen itu.

“Kenapa dokumen kepengurusan PSI yang sudah lama tersebar itu baru diramaikan sekarang,” ujarnya.

Dia menduga ada pihak yang mulai khawatir dengan keberadaan PSI karena PSI mulai disukai rakyat. PSI merupakan salah satu dari empat parpol baru yang lolos menjadi peserta Pemilu 2019.

Berdasarkan daftar susunan pengurus PSI yang diunggah dalam laman infopemilu.kpu.go.id, Sunny menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pembina PSI. Nama Sunny beserta jabatannya tercantum dalam Surat Keputusan yang ditandatangani Menteri Hukum dan Ham, Yasonna Hamonangan Laoly mengenai struktur kepengurusan PSI.

Nama Sunny juga mencuat saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencekal orang dekat Ahok tersebut pada 6 April 2016. Pencekalan itu dilakukan terkait pengusutan dugaan suap pembahasan dua Raperda Reklamasi Teluk Jakarta.

 

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top