Moratorium Proyek Infrastruktur Dinilai Kurang Tepat

Kebijakan pemerintah untuk menghentikan sementara pembangunan seluruh proyek infrastruktur elevated seiring banyaknya kecelakaan konstruksi yang terjadi dinilai kurang tepat.
Denis Riantiza Meilanova | 24 Februari 2018 18:39 WIB
Warga mengamati tim Labfor Bareskrim Pori melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pascarobohnya pascarobohnya bekisting pier head pada proyek konstruksi pembangunan jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) di Jalan D I Panjaitan, Jakarta, Selasa (20/2/2018). - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA -- Kebijakan pemerintah untuk menghentikan sementara pembangunan seluruh proyek infrastruktur elevated seiring banyaknya kecelakaan konstruksi yang terjadi dinilai kurang tepat.

Ketua Masyarakat Infrastruktur Indonesia Harun Al Rasyid  Lubis mengatakan penghentian total seluruh proyek akan menghambat produktivitas serta merusak target-target  yang telah dicanangkan.

"Saya nggak sepakat kalau  berhenti total. Harus  dipilah-pilah mana yang kita teruskan cepat," ujar Harun di Jakarta, Sabtu (24/2/2018).

"Moratorium juga jangan lama-lama, kami berharap tidak lebih dari seminggu karena mesin-mesin ini juga akan berhenti."

Sependapat dengan Harun, Guru Besar Manajemen Konstruksi Universitas Pelita Harapan, Manlian Ronald Simanjuntak menilai proyek lain yang tidak berisiko tinggi seharusnya  tetap dapat dijalankan agar selesai sesuai jadwal yang telah direncanakan. 

"Kalau berhenti  mahal, ini urusan investasi pada awal. Alat beratlah, bahannya, dan manusianya.  Kita juga harus pikirkan hal ini," kata Manlian

Dia mengatakan proyek kontruksi pada dasarnya  mengacu kepada pembangunan berbasis risiko di mana di dalamnya terdapat manajemen risiko.  Artinya, kecelakaan kontruksi dalam suatu proyek semestinya dapat dicegah.

"Kami percaya kalau sudah disiapkan dari awal saat ada kejadian seperti ini harusnya bisa diantisipasi, jangan  jadi kaget," katanya.

Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basoeki Hadimoeljono menginstruksikan untuk menghentikan sementara pembangunan proyek infrastruktur elevated seiring banyaknya kecelakaan konstruksi yang terjadi.

"Saya perintahkan semuanya berhenti, dari LRT (light rail transit), tol, jembatan, yang memiliki pekerjaan berat di atas kami hentikan dulu sementara,"ujar Basoeki.

Sejumlah proyek tersebut akan dilakukan audit oleh Komite Keselamatan Konstruksi. Nantinya apabila audit tersebut sudah selesai, pekerjaan pembangunannya dilanjutkan kembali. 

Proyek Jalan Tol Becakayu merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk mulai tahun 2014 dengan nilai kontrak Rp7,23 triliun dan memiliki panjang ruas 11 km.

Tag : infrastruktur
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top