Peraih Nobel Perdamaian: ICAN Desak Penghapusan Senjata Nuklir

Kelompok peraih nobel perdamaian 2017 pada hari Minggu (10/12/2017) mendesak negara-negara yang memiliki nuklir untuk terikat dalam perjanjian Perserikatan Bangsa-Bangsa yang melarang senjata atom untuk mencegah bencana dunia.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 11 Desember 2017  |  08:39 WIB
Peraih Nobel Perdamaian: ICAN Desak Penghapusan Senjata Nuklir
Reaktor nuklir Fukushima di Jepang - Istimewa

Kabar24.com, JAKARTA – Kelompok peraih nobel pertamaian 2017 pada hari Minggu (10/12/2017) mendesak negara-negara yang memiliki nuklir untuk terikat dalam perjanjian Perserikatan Bangsa-Bangsa yang melarang senjata atom untuk mencegah bencana dunia.

Dilansir Reuters, Kampanye Internasional untuk Menghapus Senjata Nuklir (International Campaign to Abolish Nuclear Weapons/ICAN) dianugerahi Nobel Perdamaian tahun ini oleh komite Nobel atas fokusnya pada penyebaran senjata nuklir dan meningkatnya risiko perang atom.

ICAN adalah koalisi dari 468 organisasi non-pemerintah yang berkampanye untuk sebuah perjanjian PBB mengenai larangan senjata nuklir, yang diadopsi oleh 122 negara pada bulan Juli.

Sebelumnya, perjanjian tersebut tidak ditandatangani ole  dan tidak berlaku untuk negara yang telah memiliki senjata nuklir. Namun Direktur Eksekutif ICAN, Beatrice Fihn mendesak negara tersebut untuk menandatangani kesepakatan.

"Ini memberikan mereka antara dua pilihan: akhir senjata nuklir atau akhir dari kita," katanya dalam pidato perayaan peraih Nobel Perdamaian di Oslo, seperti dikutip Reuters.

"Amerika Serikat memilih kebebasan di atas rasa takut, Rusia memilih pelucutan senjata di atas penghancuran. Inggris memilih peraturan hukum di atas penindasan," tambahnya, sebelum mendesak Prancis, China, India, Pakistan, Korea Utara dan Israel untuk melakukan hal yang sama.

Israel secara luas dianggap memiliki senjata nuklir, meski mereka tidak mengkonfirmasi atau menyangkalnya.

"Saat panik atau kecerobohan, komentar yang salah atau ego yang mencuat dapat dengan mudah membawa kita pada penghancuran seluruh kota. Eskalasi militer yang terukur dapat menyebabkan pembunuhan massal warga sipil tanpa pandang bulu, " tambahnya.

Fihn menyampaikan pidato Nobel tersebut bersama dengan Setsuko Thurlow (85 tahun), seorang yang selamat dari pemboman atom Hiroshima dan sekarang menjadi juru kampanye ICAN.

Thurlow meningat beberapa kejadian akan serangan bom atom pada 6 Agustus 1945 tersebut. Dia diselamatkan dari puing bangunan yang roboh sekitar 1,8 km dari pusat ledakan (Ground  Zero). Sebagian besar teman sekelasnya, yang berada di ruangan yang sama, terbakar hidup-hidup.

Jepang, yang merupakan satu-satunya negara yang menderita karena bom atom dan sekarang bergantung pada payung nuklir AS, juga belum menandatangani perjanjian tersebut.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu, Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono menyatakan penghormatan atas korban bom atom yang selamat atas upaya mereka dalam menciptakan dunia bebas senjata nuklir.

Namun dia menambahkan, "Sangat penting untuk terus mencari cara untuk meningkatkan pelucutan senjata secara realistis, sambil merespon ancaman nyata secara tepat, termasuk program pengembangan nuklir dan rudal Korea Utara."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hadiah nobel

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top