Kisah Jatuh-Bangun Setya Novanto di Bisnis dan Politik

Ketua DPR Setya Novanto kini menjadi tahanan KPK, karena menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi KTP Elektronik. Dia kini drawat di RSCM sejak Jumat (17/11/2017),karena kecelakaan tunggal di kawasan Permata Hijau Jakarta Selatan, Kamis (16/11/2017) malam.
Nancy Junita, Tempo.co | 18 November 2017 09:22 WIB
Ketua DPR Setya Novanto dibawa keluar dari Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Jakarta, Jumat (17/11). Setya Novanto dibawa ke RSCM untuk tindakan medis lebih lanjut. - ANTARA/Wibowo Armando

Kabar24.com, JAKARTA - Ketua DPR Setya Novanto kini  menjadi tahanan KPK, karena menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi  KTP Elektronik. Dia kini drawat di RSCM sejak Jumat (17/11/2017),karena kecelakaan tunggal di kawasan Permata Hijau Jakarta Selatan, Kamis (16/11/2017) malam.

Awalnya, Setya Novanto dirawat di RS Medika Permata Hijau, namun karena statusnya menjadi tersangka per Jumat (17/11/2017), maka perawatannya dipindah ke RSCM Kencana.

Penahanan Setya Novanto bak drama. Berawal dari penggeledahan yang dilakukan KPK pada Rabu (15/11/2017) malam di kediamannya di Jalan Wijaya XIII Kebayoran baru Jakarta Selatan. Tapi, saat rumahnya digeledah, Setya Novanto raib. Penyidik KPK akhirnya hanya mengamankan sejumlah berkas dan rekamanCCTV dari rumah Ketum Partai Golkar itu.

Tapi, Setya Novanto yang dikenal 'licin' dan lolos dari berbagai kasus yang membelitnya, akhirnya terkapar di rumah sakit karena kecelakaan dan menjadi tahanan KPK. Sebelumnya, KPK juga telah menjadikannya tersangka dalam kasus dugaan korupsi KTP Elektronik, tapi dia menggugat, dan menang di sidang praperadilan. Tak mau kalah, KPK kembali menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka dalam kasus yang sama untuk kedua kalinya.

Setelah KPK mengirimkan 11 kali surat panggilan kepada Setya Novanto, akhirnya pada Rabu (15/11/2017), KPK berupaya memanggil paksa, dan berakhir pada kejadian kecelakaan Kamis (16/11/2017).

Dikutip dari www.tempo.co, 18 November 2015, sebelum kasus dugaan korupsi KTP Elektronik, Setya Novanto diduga mencatut nama Presiden Jokowi untuk meminta jatah saham ke PT Freeport Indonesia yang dilaporkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral kepada MKD.

Setya Novanto juga tersandung kasus Bank Bali. PT Era Giat Prima, perkongsiannya dengan Djoko S. Tjandra—pemilik Mulia Group—menjadi juru tagih cessie Bank Bali di empat bank yang dilikuidasi pemerintah.

Dari piutang Rp 904 miliar, Setya mendapat fee Rp 546 miliar, yang diduga mengalir ke kas Partai Golkar. Kendati jelas merugikan negara, kasus ini dihentikan Kejaksaan Agung.

"Itu bukti saya tak bersalah," kata Setya, September tahun lalu.

Dari kasus itulah dia menjadi politikus andalan di Golkar. Jabatannya selalu bendahara. Namanya disebut dalam banyak kasus korupsi yang berhubungan dengan keputusan anggaran di parlemen. Dari suap anggaran Pekan Olahraga Nasional di Riau, pengaturan tender kartu tanda penduduk elektronik, hingga dugaan penyuapan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar.

"Saya sering dituduh macam-macam," ujarnya.

Setya Novanto mengaku tidak mudah dalam mengawali kariernya untuk menjadi sekarang. Dia mengaku harus berjualan madu dan beras untuk menutupi hidup saat kuliah di Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya. Berbagai pekerjaan dia lakoni, dari menjadi anggota staf penjualan PT Sinar Mas Galaxy, diler mobil Suzuki, hingga menjadi model dan terpilih jadi pria tampan Surabaya pada 1975.

Lulus kuliah, dia pindah ke PT Aninda Cipta Perdana, penyalur pupuk PT Petrokimia Gresik untuk wilayah Surabaya dan Nusa Tenggara Timur, milik Hayono Isman, Menteri Pemuda dan Olahraga kabinet Presiden Soeharto, yang tak lain teman sekelas Setya di SMA Negeri 9 Jakarta. Menjadi penyalur pupuk itulah awal mula persinggungan Setya dengan Nusa Tenggara Timur.

Selama tiga periode menjadi anggota DPR dariGolkar , ia mewakili provinsi itu. Di Kupang, ia memiliki rumah 700 meter persegi, dua lantai, yang dilengkapi kolam renang. Rumah itu belakangan menjadi Novanto Center. Tiap kali berkunjung ke sana, ia rajin menyumbang banyak gereja, petani, dan peternak.

Pada 1982, ia balik ke Jakarta untuk meneruskan kuliah sarjana akuntansi di Universitas Trisakti. Pekerjaannya di perusahaan pupuk tetap diteruskan dan ia menumpang tinggal di rumah Hayono di Menteng. Menurut Leo Nababan, Wakil Sekretaris Jenderal Golkar, selain menjadi anggota staf, Setya menjadi sopir pribadi keluarga Hayono.

Setya menikah dengan Luciana Lily Herliyanti, putri Brigadir Jenderal Sudharsono, mantan Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat. Menjadi menantu pejabat kepolisian membuat Setya punya akses ke dunia bisnis. Ia dipercaya mengelola pompa bensin milik mertuanya di Cikokol, Tangerang.

Dari pompa bensin, usahanya merembet ke peternakan, kontraktor, jual-beli bahan baku kertas, tekstil, hotel, hingga lapangan golf. Perusahaannya tersebar di Jakarta, Batam, dan Kupang. Meski usahanya berhasil, perkawinannya kandas. Ia bercerai dengan Lily dan menikahi Deisti Astriani Tagor. Dari pernikahan itu, Setya memiliki empat anak.

Kini, seluruh warga Indonesia menanti akhir dari perjalanan Setya Novanto dalam kasus dugaan korupsi KTP elektronik. Apakah Setnov (nama panggilan populernya) akan lolos dari jerat hukum kali ini?

 

 

Tag : e-ktp, setya novanto
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top