Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Trump Siap Negosiasi dengan Demokrat Soal Pengganti Obamacare

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang untuk bernegosiasi dengan Partai Demokrat guna membentuk sistem layanan kesehatan AS pengganti Obamacare dalam jangka waktu tetentu.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 08 Oktober 2017  |  18:25 WIB
Presiden AS Donald Trump - Reuters
Presiden AS Donald Trump - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang untuk bernegosiasi dengan Partai Demokrat  guna membentuk sistem layanan kesehatan AS pengganti Obamacare dalam jangka waktu tetentu.

Trump mengatakan, jangka waktu penerapan sistem layanan kesehatan baru yang dibentuk dengan Demokrat tersebut mungkin hanya akan berjalan selama satu hingga dua tahun. Kebijakan itu dilakukannya sebagai bentuk realisasi atas janjinya selama masa kampanye.

“Jika kita [Republik dan Demokrat] membuat kesepakatan sementara, saya pikir ini akan menjadi hal yang hebat bagi publik. Jadi kita akan melakukan kontrak pelaksanaan sistem baru selama satu atau dua tahun,” katanya, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (8/10/2017).

Seperti diketahui, sejak menjabat sebagai Presiden AS, Trump berkali-kali gagal merealisasikan sistem layanan kesehatan barunya untuk menggantikan Obamacare.

Kegagalan tersebut bukan hanya karena mendapat tentangan dari Partai Demokrat, melainkan juga dari kubu konservatif dari Partai Republik sendiri.

Akibatnya, Trump beberapa kali tampak frustasi atas kegagalannya tersebut. Dia bahkan sempat mengejek para Republikan sebagai penurut dan pengikut serta orang bodoh.  Kritik itu dilontarkannya karena ketidakmampuan pejabat Partai Republik di Senat AS untuk mencabut Obamacare.

Adapun pada Sabtu (7/10/2017), Trump mengaku telah berbicara dengan Pimimpinan Senat dari Partai Demokrat Chuck Schumer. Dia meminta agar Schumer menjelaskan keinginan dan usulan kubu Demokrat terkait sistem layanan kesehatan AS penganti Obamacare.

"Saya menelepon Chuck Schumer kemarin untuk melihat apa yang diinginkan kubu Demokrat terkait layanan kesehatan yang baru. Sebab Obamacare terlalu buruk, premi terlalu besar,” katanya.

Sementara itu Schumer pun mengakui bahwa dia telah ditelepon oleh Trump terkait ambisisnya melanjutkan reformasi undang-undang layanan kesehatan AS.

"Jika dia ingin bekerja sama untuk memperbaiki sistem layanan  kesahatan AS, kami kubu Demokrat akan sangat terbuka terhadap sarannya," ujarnya.

Reformasi UU Kesehatan AS memang menjadi salah satu ambisi terbesar Trump dalam masa kepemimpinannya. Kebijakan itu juga dianggapnya sebaga salah satu indikator keberhasilannya memimpin Paman Sam.

Keberhasilan mencabut Obamacare akan berdampak pada naiknya kredibilitas dan kepercayaan publik pada Trump. Pasalnya, optimisme sektor perbankan pada Presiden AS Donald Trump perlahan mulai memudar, setelah sempat mencapai titik tertingginya pada awal tahun ini.

Hal ini tampak dari keputusan JPMorgan Chase & Co. yang menurunkan prospek pertumbuhan kredit dan pendapatan bunganya pada semester II/2017. Adapun, Wells Fargo & Co melaporkan perkiraannya terhadap penurunan pinjaman hipotek pada periode tersebut.

Sementara itu, Citigoup Inc. menyatakan bahwa pendapatan dari bisnis trading mulai turun. Penurunan itu disinyalir datang dari macetnya sejumlah kebijakan baru AS di Kongres AS, seperti UU Kesehatan pengganti Obamacare, UU Dodd Frank, dan reformasi pajak AS.

Citigroup dalam keterangan resminya bahkan menyatakan pesimismenya mengenai pemerintahan Trump. Korporasi itu menyebutkan bahwa, saat ini akan sulit mengharapkan Trump dan Partai Republik mendorong reformasi dengan cepat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi as obamacare Donald Trump
Editor : Gita Arwana Cakti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top