Senjata Impor Itu Bukan Untuk Nembak Tank, Kata Komandan Brimob

Senjata yang diimpor oleh Kepolisian Republik Indonesia dari Bulgaria. Senjata itu akan digunakan untuk daerah operasi pertempuran dalam kota dan hutan, melawan gerakan separatis dan teroris. Bukan untuk menembak tank.
Martin Sihombing | 30 September 2017 22:42 WIB
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto dan Kepala Korps Brimob Polri Irjen Murad Ismail (kiri) - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Senjata yang diimpor oleh Kepolisian Republik Indonesia dari Bulgaria. Senjata itu akan digunakan untuk daerah operasi pertempuran dalam kota dan hutan,  melawan gerakan separatis dan teroris. Bukan untuk menembak tank.

"Pelurunya hampa, kita pakai untuk perang di hutan. Miisalnya,  musuh bersembuyi di balik pohon kita tembakan. Pelurunya pecah. Itu  memberi efek kejut. Tidak  mematikan. Bisa melukai. Jadi bukan untuk nembak tank," kata Komandan Korps Brimob Irjen Pol Murad Ismail  (foto) saat memberi keterangan pers di kantor Mabes Polri, Jakarta, Sabtu malam (30/9/2017).

Murad  menjelaskan secara teknis penggunaan senjata yang masih berada di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Tangerang, Banten.  Senjata impor model Stand Alone Granade Launcher (SAGL) kaliber 40x46 mm ini merupakan model terbaru, yang dipesan oleh Brimob serta  5.932 butir amunisi granat.  "Apa yang kami impor  sesuai dengan manifes. Saya yang tanda tangani dan ditujukan kepada Bais TNI," kata Irjen Murad.



Murad mengatakan, sejak 1998 Brimob telah memakainya, tetapi itu dikombinasikan dengan senjata laras panjang.  "Jadi diikat ini pelontarnya di bawah laras, kalau yang sekarang tidak perlu, karena berdiri sendiri. Tidak perlu bantuan senjata lain," jelasnya  sambil memperagakan.  

Impor senjata api dan amunisi untuk Korps Brimob Polri dilakukan oleh PT. Mustika Duta Mas.  Senajata itu  tiba di Soekarno Hatta menggunakan  Ukraine Air Alliance  nomor penerbangan UKL 4024, pada Jumat (29/9) pukul 23.30 WIB. Alamat penerimanya  Bendahara Pengeluaran Korps Brimob Polri, Kesatriaan Amji Antak, Kelapa Dua, Cimanggis, Indonesia.

Kargo  pertama berisi senjata berat itu berisi 280 pucuk senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40 x 46mm. Dikemas dalam 28 kotak (10 pucuk/kotak), dengan berat total 2.212 kg. Kedua, amunisi RLV-HEFJ kaliber 40x 46mm, yang dikemas dalam 70 boks (84 butir/boks) dan 1 boks (52 butir). Totalnya mencapai 5.932 butir (71 boks) dengan berat 2.829 kg.

Sebelumnya, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengakui senjata itu diimpor Polri. "Ya…Barang di Bandara Soetta milik Polri dan sah," ujar  Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, di Mabes Polri, Jakarta di Jakarta, Sabu (30/9/2017).

Sumber : Antara

Tag : polri
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top