WTO Revisi Naik Pertumbuhan Perdagangan Global Tahun Ini

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperkirakan aktivitas perdagangan global terus menguat dan melanjutkan pembalikannya pada tahun ini. Namun, proteksionisme diperkirakan tetap menjadi penghalang terbesarnya.
Yustinus Andri DP | 21 September 2017 19:16 WIB
ilustrasi. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperkirakan aktivitas perdagangan global terus menguat dan melanjutkan pembalikannya pada tahun ini. Namun, proteksionisme diperkirakan tetap menjadi penghalang terbesarnya.

Dalam laporan terbarunya, WTO mempoyeksikan, aktivitas perdagangan dunia akan tumbuh 3,6% pada 2017 atau melonjak dari realisasi tahun lalu yang hanya tumbuh 1,3%. Proyeksi itu merevisi naik perkiraan sebelumnya, pada April, dengan petumbuhan 2,4% tahun ini.

Selain itu pada laporan April, rentang pertumbuhan perdagangan global akan melaju pada level 1,8%-3,6%. Perkiraan itu didasarkan pada ketidakpastian ekonomi dan politik yang masih tinggi.

Namun kini, proyeksi rentang pertumbuhan aktiitas perdagangan 2017 juga direvisi naik menjadi 3,2%-3,9%. WTO mendasarkan perkiraan itu pada percepatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya permintaan impor di China dan Amerika Serikat yang mendorong pertumbuhan perdagangan di Asia.

"Prospek yang membaik untuk perdagangan adalah berita gembira, namun risiko substansial yang mengancam ekonomi dunia tetap ada dan dapat dengan mudah merusak pemulihan perdagangan," kata Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo, Kamis (21/9).

Dia melanjutkan, risiko substansial tersebut salah satunya meliputi kebijakan proteksionisme yang diterjemahkan dalam tindakan pembatasan aktivitas perdagangan antarnegara. Apabila kebijakan itu dilakukan oleh sebuah negara, maka akan menambah beban perdagangan global yang saat ini dibayangi oleh sentimen baru yakni ketegangan geopoitik di Asia serta bencana alam.

Kewaspadaan serupa sebelumnya telah dilontarkan oleh negara anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) dalam pertemuannya awal bulan ini.

Kala itu, Wakil Menteri Perdagangan China Wang Shouwen mengatakan, hampir seluruh anggota kelompok negara berkembang menentang praktik proteksi perdagangan.

Para pengamat menilai, komitmen BIRCS tersebut menjadikan AS sebagai sasaran kritik, mengingat rencana kebijakan Presiden Donald Trump selama ini cenderung mendukung aksi proteksionisme.

Ancaman proteksionisme juga semakin meningkat ketika Pemerintah AS menyatakan kesiapannya menentang kesepakatan di WTO, guna memerangi praktek perdagangan dari negara lain yang merugikan AS.

Tag : ekonomi global, perdagangan
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top