Status Gunung Agung Bali Jadi Siaga

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menaikkan status Gunungapi Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga) pada Selasa (19/9).
Gemal AN Panggabean | 19 September 2017 14:31 WIB
Petugas membaca grafik seismogram hasil pemantauan aktivitas Gunung Agung di Pos Pemantauan Desa Rendang, Karangasem, Bali, Selasa (19/9). - ANTARA/Nyoman Budhiana

Kabar24.com, JAKARTA--Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menaikkan status Gunungapi Agung dinaikkan dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga) pada Selasa (19/9). 

Kenaikan status ini ditetapkan setelah pengamatan yang dilakukan berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental sejak kenaikan status Gunungapi Agung ke Level II (Waspada) pada hari Kamis (14/9) lalu.

Kepala PVMBG Kasbani melaporkan, berdasar pengamatan visual Gunungapi Agung dari Pos Pengamat Gunungapi Agung di Rendang, menunjukkan adanya hembusan solfatara dari dasar kawah setinggi 50 meter dari bibir kawah dengan intensitas putih tipis dengan tekanan lemah.

Tingkat kegempaan Gunung api Agung secara umum tampak masih menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Gempa vulkanik dalam yang mengindikasikan proses peretakan batuan di dalam tubuh gunung api yang diakibatkan oleh tekanan fluida magmatik dari kedalaman mulai terekam meningkat jumlahnya secara konsisten sejak 10 Agustus 2017 dan terus meningkat jumlahnya pasca kenaikan status ke Level II (Waspada) dengan amplituda kegempaan vulkanik berkisar 3-10 mm. 

"Gempa vulkanik dangkal juga mulai terekam meningkat jumlahnya secara konsisten sejak 24 Agustus 2017 dengan amplituda kegempaan vulkanik berkisar antara 2-10mm," katanya, Selasa (19/9). 

Aktivitas gempa tektonik lokal yang mengindikasikan perubahan stress batuan di sekitar Gunung Agung juga terekam dan mulai meningkat secara konsisten sejak 26 Agustus 2017 dengan amplituda berkisar 6 mm sampai 22 mm.

Gempa terasa frekuensinya semakin tinggi. Sejak 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi 4 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar Gunungapi Agung. Terakhir, Gempa Terasa pada pukul 19:02 WITA dengan magnitudo Md 3.11 dan skala MMI II-III di Pos PGA Agung di Rendang.

Citra termal yang terekam oleh sensor MODIS di satelit Terra dan Aqua (NASA) pada periode 1 Januari- 17 September 2017 belum menunjukkan adanya titik api di G. Agung, begitu juga dengan citra anomali konsentrasi SO2 di udara di sekitar G. Agung.

Sementara itu, Citra Himawari pada 18 September 2017 pada pukul 16.00 WITA hingga 17.20 WITA merekam kontras anomali termal berupa asap putih (uap air) di area puncak Gunung Agung.

Dengan naiknya status ini, Kasbani mengimbau, masyarakat di sekitar Gunungapi Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan dihimbau agar tidak beraktivitas, tidak melakukan pendakian dan tidak berkemah di dalam area kawah Gunungapi Agung dan di seluruh area di dalam radius 6 km dari kawah puncak Gunung atau pada elevasi di atas 950 m dari permukaan laut dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara, Tenggara dan Selatan-Baratdaya sejauh 7.5 km.

Masyarakat, pendaki/pengunjung/wisatawan juga diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan, tidak terpancing isu-isu tentang erupsi Gunungapi Agung yang tidak jelas sumbernya.

PVMBG terus berkoordinasi dengan BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang kegiatan Gunungapi Agung.

Tag : gunung agung, gunung merapi
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top