INFOGRAFIK: Negara-negara Pendukung Pernikahan Sesama Jenis

Keputusan Parlemen Jerman untuk mendukung pernikahan sesama jenis semakin menambah deretan negara-negara yang memiliki kebijakan serupa.
Maftuh Ihsan | 30 Juni 2017 19:21 WIB
Sejumlah orang merayakan pengesahan pernikahan sesama jenis di depan Brandenburg Gate di Berlin, Jerman - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA--Keputusan Parlemen Jerman untuk mendukung pernikahan sesama jenis semakin menambah deretan negara-negara yang memiliki kebijakan serupa.

Pada 2017, Jerman menjadi negara kedua yang mengesahkan pernikahan sesama jenis setelah Slovenia. Selain itu, Finlandia yang juga mulai menerapkan kebijakan yang sama pada tahun ini setelah aturan yang mengatur hal tersebut disahkan pada 2014.

Negara mana saja yang membolehkan pernikahan sesama jenis? Simak infografik berikut ini.

Adapun, Parlemen Jerman mengesahkan kebijakan pernikahan sesama jenis melalui pemungutan suara dengan selisih yang cukup jauh pada Jumat (30/6/2017). Tercatat ada 393 suara yang mendukung pernikahan sesama jenis melawan 226 suara.

Hasil pemungutan suara ini kemungkinan besar akan disahkan sebagai undang-undang oleh presiden Jerman segera setelah 7 Juli 2017.

Adapun, Kanselir Angela Merkel membebaskan anggota blok konservatifnya yang tengah berkuasa untuk mengikuti nurani pribadi mereka, bukan paham yang dianut partai.

Merkel sendiri menolak kebijakan tersebut karena dia yakin bahwa pernikahan sebagaimana didefinisikan dalam undang-undang Jerman adalah antara seorang pria dan seorang wanita.

Meskipun demikian, dia mengatakan bahwa keputusannya adalah keputusan pribadi. Dia telah meyakini dalam beberapa tahun terakhir bahwa pasangan sesama jenis harus diizinkan untuk mengadopsi anak-anak.

"Saya berharap bahwa pemungutan suara hari ini tidak hanya mempromosikan rasa hormat terhadap berbagai pendapat, namun juga membawa lebih banyak kohesi sosial dan perdamaian," kata Merkel, seperti dikutip Reuters, Jumat (30/6/2017).

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
LGBT

Sumber : Reuters
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top