Akan Beda dari Biasanya. Mengapa?

Pertemuan puncak para pemimpin negara G20 di Hamburg pada pekan depan akan berbeda dari biasanya, terutama dari sisi pengamanan. Mengapa demikian?
Kurniawan A. Wicaksono | 30 Juni 2017 06:35 WIB
Jendela-jendela pertokoaan Karstadt di Jerman dilindungi dengan kayu sebelum pelaksanaan pertemuan G20 di Hamburg Jerma, 29 Juni 2017. - Reuters

Kabar24.com, HAMBURG – Pertemuan puncak para pemimpin negara G20 di Hamburg pada pekan depan akan berbeda dari biasanya, terutama dari sisi pengamanan. Mengapa demikian?

Seperti dilansir dari Reuters pada Jumat (30/6/2017), salah satu pembeda yang paling menonjol yakni pemilihan tempat berada di pusat kota pelabuhan utara. Padahal, biasanya pertemuan puncak diadakan di tempat yang sangat mudah terlindungi dari demontran.

Risiko tinggi yang diambil sang tuan rumah, Kanselir Jerman Angela Merkel sebagai langkah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa demontrasi besar-besaran dapat ditoleransi asalkan dalam koridor domokrasi yang sehat. Tentunya ini memunculkan tantangan besar bagi polisi.

Dalam barisan depan kebijakan, dia bertekad untuk menyerahkan terlalu banyak kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait perubahan iklim, perdagangan dan imigrasi. Hal ini kemungkinan memunculkan bentrokan publik yang tidak biasa.

“Sejujurnya, sulit untuk mengetahui apa yang akan terjadi di Hamburg,” ujar seorang pejabat senior Jerman yang terlibat dalam persiapan pertemuan 7-8 Juli tersebut.

Menurut pejabat yang enggan dipublikasikan identitasnya ini, pertemuan tersebut jelas tidak akan menjadi puncak dari persatuan yang besar. Kekhawatiran terbesar memang pada pengamanan. Dia berharap tidak akan terjadi bentrokan yang serupa pertemuan tingkat tinggi G8 pada 2001.

Taruhan tinggi pertemuan ini memang untuk Merkel yang tengah kampanye pemilihan federal, agar tidak terjadi kekacauan dan ketidakharmonisan. Hubungannya dengan tiga peserta pertemuan yang berprofil tinggi – Donald Trump, Vladimir Putin, dan Tayyip Erdogan – tengah tegang.

Sorotan sangat intensif pasti ditujukan kepada Trump dan Putin yang akan bertatap muka untuk pertama kalinya. Hasil pertemuan pemimpin AS dan Rusia tersebut bisa membayangi seluruh keputusan dalam pertemuan puncak G20.

Merkel memilih Hamburg – kota kelahirannya sebelum sang ayah memindahkan keluarga ke Jerman Timur – untuk mengirim pesan keterbukaan. Kota ini merupakan salah satu pusat perdagangan terbesar di Eropa.

Kota tersebut merupakan rumah bagi beberapa kelompok media terbesar di jerman dan kemungkinan menjadi simbol perbedaan antara sayap kiri, Rote Flora, bekas teater di distrik Sternschanze kota yang telah dihuni oleh penghuni liar antikapitalis selama hampir tiga dekade.

Kelebihan tambahan untuk Merkel yakni kesempatan untuk memamerkan keajaiban arsitektur Hamburg yang baru, aula konser Elbphilharmonie. Para pemimpin G20 akan berkumpul untuk makan malam pada malam pertama puncak pertemuan di sana.

Menjelang pertemuan puncak, pemerintah Jerman telah memainkan fakta bahwa pemrotes akan diizinkan untuk menyuarakan penolakan terhadap gelaran ini. Pesan untuk para pemimpin seperti Trump, Putin, dan Erdogan jelas yakni toleransi untuk ketidaksetujuan publik merupakan landasan kepercayaan diri dari demokrasi yang terbuka.

“Kami adalah negara, tempat orang memiliki hak untuk berdemonstrasi. Setiap warga negara memiliki hak untuk melakukan protes dan ini penting bagi G20,” ujar Steffen Seibert, juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel.

Pesan ini memberikan tekanan besar pada polisi Jerman. Jika mereka tidak bisa menjaga perdamaian, salah seorang pejabat Hamburg mengakui, hal ini akan menjadi kekelahan bagi Merkel.

Sekitar 20.000 polisi dengan anjing, kuda, helikopter, dan 7,8 kilometer penghalang baja akan dikerahkan. Polisi akan menghadapi puluhan ribu demonstran yang berencana mengelilingi pusat konvensi di jantung kota, tempat para pemimpin akan bertemu.

Salah satu pejabat keamanan mengatakan bahwa sampai 8.000 demonstran akan menjadi anarkis dengan tujuan utama untuk mengganggu KTT ini. Mereka, sambungnya, telah merencanakan demonstrasi menjelang malam G20 dengan sebutan ‘Welcome to Hell’.

Polisi juga khawatir terkait bentrokan antara pendukung Partai Pekerja Kurdistan (PKK) – kelompok militant yang terlibat dalam perjuangan bersenjata melawan Turki – dan nasionalis Turki yang mendukung Erdogan.

“Lebih dari Trump, kehadiran Erdogan memobilisasi orang-orang di seluruh Eropa,” ujar Werner Raetz, aktivis veteran Jerman yang terlibat dalam perencanaan demonstrasi G20.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
g20

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top