Kenaikan Suku Bunga The Fed Pada Juni, Tak Pengaruhi Bank Asia-Pasifik

Kebijakan Bank Sntral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya ternyata tak terlalu memengaruhi kebijakan moneter bank-bank sentral di Asia-Pasifik.
Yustinus Andri DP | 21 Juni 2017 17:45 WIB
Bank sentral AS The Federal Reserve - Reuters/Larry Downing

Bisnis.com, JAKARTA—Kebijakan Bank Sntral AS (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya ternyata tak terlalu memengaruhi kebijakan moneter bank-bank sentral di Asia-Pasifik.

Seperti diketahui, The Fed baru saja menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1,00%-1,25% dalam Federal Open Market Committee (FOMC) pada 13-14 Juni lalu. Kenaikan tersebut menjadi yang kedua kalinya tahun ini setelah Maret.

Namun demikian, kenaikan suku bunga AS tersebut rupanya tak diikuti oleh kebijakan pengetatan moneter serupa oleh bank-bank Asia-Pasifik. Para ekonom yang disurvei oleh Reuters memrediksi, bank sentral Selandia Baru, Fiipina dan Taiwan cenderung akan menahan suku bunganya dalam peremuan dewan gubernurnya pada pekan ini.

Sebelumnya, kebijakan untuk menahan suku bunga acuan telah dilakukan hamir bersamaan oleh Jepang, dan Indonesia. Adapun Australia dan India justru lebih dulu mengambil keputusan menahan suku bunga acuannya pada awal bulan ini, atau sebelum keputusan The Fed

Kondisi ini tentu saja berbeda dengan saat The Fed mengerek suku bunganya pada Maret. Bank Sental China (PBOC) menjadi salah satu otoritas moneter di Asia yang ikut menaikkan suku bunganya. Tercatat, PBOC juga memilih mempertahankan suku bunganya pada bulan ini.

Frederic Neuman, Kepala Riset Ekonomi Asia HSBC menilai, bank-bank sentral di Asia saat ini tak lagi terlalu bergantung pada kebijakan AS. Mereka justru lebih banyak bergantung pada kondisi ekonomi di China.

"China dianggap menjadi motor ekonomi utama Asia dan negara ini masih memiliki potensi negatif. Kami melihat bank sentral Asia banyak menahan suku bunga dan mengadopsi kebijakan bias longgar karena China melihat permintaan eksternal masih rendah, terutama dari Barat," kata Neumann, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (21/6/2017).

Adapun, pada 2016, nilai perdagangan AS dengan 10 mitra Asia teratas meningkat sekitar 25% dari capaiannya sebelum krisis keuangan global 2008-2009. Namun, perdagangan China dengan sembilan negara lainnya tumbuh hampir 60% pada periode yang sama, yakni mencapai US$1,05 triliun. Sementara itu nilai perdagangan Amerika Serikat dengan sembilan negara tersebut hanya setengah dari capaian China.

Selama ini alasan utama bank sentral Asia untuk mengerek suku bunganya mengikuti kebijakan The Fed adalah untuk menjaga selisih nilai imbal hasil obligasi mereka. Suku bunga AS yang lebih tinggi, dapat menekan nilai tukar mata uang negara Asia dan memicu arus modal keluar karena menipisnya yield obligasi.

Namun, yang terjadi dalam kenaikan suku bunga The Fed bulan ini rupanya hanya mengangkat imbal hasil obligasi jangka pendek Paman Sam. Seperti diketahui, imbal hasil  obligasi bertenor tiga puluh tahun hanya menghasilkan yield 2,75% atau mendekati rekor terendahnya selama beberapa tahun terakhir yakni  2,1% .

Alasan lain mengapa bank sentral di Asia-Pasifik perlu mempertahankan suku bunga rendah adalah utang. Moody's Investors Service bulan lalu memangkas peringkat sovereign China karena khawatir sektor finansialnya dapat terkikis karena pertumbuhan ekonomi yang lambat dan utang domestik yang terus meningkat.

Di beberapa negara Asia lainnya, utang rumah tangga sangat tinggi, dan tingkat suku bunga KPR telah meningkat tajam.

Korea Selatan menjadi contohnya di mana rasio utang rumah tangga mencapai 92,8% dari PDB. Jumlah itu lebih tinggi dari yang ada di AS dan Jepang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kebijakan The Fed

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top