Ancaman Perang AS Ke Korut? Kesabaran Sudah Habis, Kata Pence

\"Era kebijakan \"kesabaran strategis\" Washington terhadap Pyongyang sudah berakhir,\" kata Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence saat mengunjungi zona demiliterisasi di perbatasan dua Korea pada Senin (17/4/2017).
Martin Sihombing | 17 April 2017 17:48 WIB
Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence. - Reuters/Bryan Woolston

Bisnis.com, KORSEL - Kebandelan Korea Utara yang terus melakukan uji coba nuklir di tengah seruan penghentian berbagai negara termasuk AS, China dan Korsel membuat Amerika Serikat naik pitam (marah). Sikap  Pyongyang memicu kemarahan negeri Paman Sam dan mengeluarkan ancaman.

"Era kebijakan "kesabaran strategis" Washington terhadap Pyongyang sudah berakhir," kata Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence saat mengunjungi zona demiliterisasi di perbatasan dua Korea pada Senin (17/4/2017).

Korea Selatan adalah negara pertama, dari empat negara termasuk Indonesia, yang dikunjungi Pence dalam lawatan ke Asia pekan ini.

Dia menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump tidak akan mundur dari kawasan semenanjung Korea yang terus mengalami guncangan politik akhir-akhir ini.

Zona demiliterisasi (DMZ) adalah sebuah area perbatasan membentang sepanjang empat kilometer yang penuh dengan ranjau dan dibatasi oleh kawat berduri di semenanjung Korea.

Perang senjata nuklir AS dan Korut menunggu waktu?

Pence, anak seorang veteran perang Korea tahun 1950-53, mengatakan bahwa Amerika Serikat akan membela sekutunya Korea Selatan dan mengupayakan perdamaian dengan kekuatan.

"Semua pilihan akan kami pertimbangkan untuk meraih tujuan stabilitas bagi warga negara ini," kata dia di tengah suara musik propaganda dari perbatasan di sebelah Korea Utara.

"Dulu memang kami menerapkan kebijakan kesabaran strategis, namun era itu sudah usai," kata dia.

Saat ini Amerika Serikat, sejumlah negara sekutu dan China tengah merundingkan langkah balasan terhadap uji coba rudal jarak jauh dari Korea Utara, kata penasihat presiden (jabatan setara menteri koordinator) untuk urusan keamanan nasional, H. R. McMaster, pada Ahad.

Menurut keterangan McMaster, saat ini Trump belum akan mengambil langkah militer, meski pihaknya sudah mengirim satu regu pesawat bersenjatakan nuklir.

"Sudah saatnya kami mengambil semua langkah yang kami bisa lakukan, kecuali pilihan militer, untuk menyelesaikan persoalan ini secara damai," kata McMaster kepada stasiun televisi ABC.

"Saat ini sudah ada konsensus internasional, termasuk dari China, yang menyepakati situasi ini tidak bisa dibiarkan," kata dia.

Pemerintahan Trump kini fokus pada pemberlakuan sanksi ekonomi yang lebih tegas kepada Korea Utara, termasuk embargo minyak, larangan penerbangan, pencegatan kapal kargo, dan hukuman terhadap bank asal China yang masih berhubungan dengan Pyongyang.

Pilihan langkah balasan terhadap Pyongyang bisa dibagi menjadi empat kategori: sanksi ekonomi, aksi intelejen, perundingan diplomatik, dan unjuk kekuatan militer.

Pence mendarat di Korea Selatan beberapa jam setelah tetangganya di utara menguji coba rudal jauh--yang berakhir dengan kegagalan.

Sebelumnya pada Ahad, Trump mengakui bahwa sikapnya melunak terhadap manajemen mata uang China setelah negara tersebut membantu Washington dalam menghukum Korea Utara.

"Saya tidak akan menyebut China sebagai manipulator mata uang jika mereka bekerja sama dengan kami soal Korea Utara. Kita akan lihat apa yang akan terjadi," kata Trump dalam akun Twitternya.

Pence sendiri berharap China "akan mengambil langkah yang diperlukan untuk mengubah kebijakan" terkait Korea Utara.

"Namun sebagaimana yang presiden jelaskan, China harus mengatasi persoalan ini atau kami yang akan turun langsung," kata Pence.

Sumber : REUTERS

Tag : amerika serikat, korut
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top