Rokok dan Tembakau Picu Inflasi di Yogyakrta

Kelompok rokok dan tembakau termasuk pengeluaran yang mengalami kenaikan angka indeks, dan menjadi salah satu penyebab inflasi Oktober 2016 di Kota Yogyakarta, sebesar 0,05%.
Martin Sihombing | 02 November 2016 14:11 WIB
Kegiatan pekerja sebuah pabrik rokok kretek di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. - JIBI/Desi Suryanto

Bisnis.com, BANTUL -  Kelompok rokok dan tembakau termasuk pengeluaran yang mengalami kenaikan angka indeks, dan menjadi salah satu penyebab inflasi  Oktober 2016 di Kota Yogyakarta, sebesar 0,05%.

"Pada Oktober ini, lima kelompok pengeluaran di Yogyakarta mengalami kenaikan angka indeks, yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 0,50 persen," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Bambang Kristianto saat dihubungi, di Yogyakarta, Rabu (2/11/2016).

Ia mengatakan, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga-harga yang menyebabkan berubahnya angka indeks harga konsumen (IHK).

Selanjutnya, kata dia, kelompok lain yang berkontribusi terhadap nilai inflasi Yogyakarta, di antaranya kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,48%; kelompok kesehatan naik 0,49%.

Berikutnya, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 0,47%; dan kelompok transpor, komonukasi dan jasa keuangan naik 0,18%.

Adapun dua kelompok lainnya mengalami penurunan yaitu kelompok bahan makanan turun 1,31%  dan kelompok sandang turun 0,30%, terang Bambang.

Dari 82 kota yang dihitung angka inflasinya, 48 kota mengalami inflasi, dan inflasi tertinggi terjadi di Kota Sibolga sebesar 1,32%, diikuti oleh Kota Jambi dan Kota Medan dengan masing-masing sebesar 1,19% dan 1,11%.

Data BPS DIY mencatat, laju inflasi tahun kalender 2016 (Oktober 2016 terhadap Desember 2015) sebesar 1,61%, sedangkan laju inflasi "year on year" (Oktober 2016 terhadap Oktober 2015), sebesar 2,72%.

Sumber : ANTARA

Tag : Inflasi, Ekonomi Yogyakarta
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top