Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Proses Perpindahan Kekuasaan di AS Diharapkan Lancar

Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Brian Mcfeeters berharap bahwa proses perpindahan kekuasaan usai pemilihan Presiden AS, antara kandidat Partai Demokrat Hillary Clinton dan kandidat Partai Republik Donald Trump, dapat berjalan dengan lancar.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 27 Oktober 2016  |  20:38 WIB
Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton - Antara
Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -  Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Brian Mcfeeters berharap bahwa proses perpindahan kekuasaan usai pemilihan Presiden AS, antara kandidat Partai Demokrat Hillary Clinton dan kandidat Partai Republik Donald Trump, dapat berjalan dengan lancar.

"Kami berharap proses transisi akan sama seperti pemilu-pemilu sebelumnya, akan ada proses perpindahan kekuasaan secara damai. Tidak ada alasan untuk berpikir sebaliknya," kata Wadubes Brian Mcfeeters di Jakarta, Kamis (27/10/2016).

Sebelumnya, calon presiden AS dari Partai Republik Donald Trump menunjukkan kemungkinan bahwa dia akan menolak hasil pemilu presiden AS pada 8 November 2016, jika dia kalah.

Dalam debat capres ketiga dan yang terakhir, Trump mengatakan ia akan menunggu untuk memutuskan apakah hasil pemilu itu nanti sah atau tidak.

"Saya akan memberitahu anda pada saatnya nanti, saya akan membuat anda menunggu," kata Trump.

Menanggapi hal itu, Hillary mengatakan bahwa dia "terkejut" dengan sikap Trump.

"Mari kita perjelas tentang apa yang dia katakan apa artinya. Ia (Trump) merendahkan demokrasi kita dan saya tentu terkejut bahwa seseorang yang adalah calon presiden untuk satu dari dua partai besar kita akan mengambil posisi seperti itu," ujar Hillary.

Selanjutnya pada sebuah kampanye di Ohio, Trump memodifikasi pernyataannya, tetapi tetap tidak mundur.

"Saya ingin berjanji dan bersumpah kepada semua pemilih dan pendukung saya dan semua orang Amerika Serikat bahwa saya benar-benar akan menerima hasil pemilihan presiden yang besar dan bersejarah ini - jika saya menang," kata dia.

Pernyataan itu meningkatkan kekhawatiran anggota Partai Republik tentang sikap Trump, yang akan membuat partainya lebih sulit mempertahankan kendali di Kongres AS.

Pernyataan itu juga merangkum semua tuduhan Trump selama ini mengenai pemilihan presiden AS, yang curang terhadap dia, dan menjadi titik nyala terbaru dalam pertandingan sengit politik, sebelum pemilih pergi ke tempat pemungutan suara.

Hillary Clinton menyebut tanggapan Trump itu "mengerikan".

Presiden Barack Obama mengecam Trump di Miami Gardens, Florida, dalam sebuah kampanye untuk mendukung Hillary dan perwakilan AS Patrick Murphy, yang mencoba untuk menggeser Senator Republik Marco Rubio, seorang pendukung Trump.

"Itu berbahaya. Karena ketika anda mencoba untuk menabur benih keraguan dalam pikiran orang tentang keabsahan pemilu, itu merongrong demokrasi kita. Kemudian anda juga melakukan pekerjaan musuh kita," kata Obama.

Wadubes Mcfeeters mengaku bahwa di Amerika Serikat pemilu presiden memang seringkali menjadi ajang kontes yang sarat dengan emosi yang bercampur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Hillary Clinton pilpres as 2016

Sumber : ANTARA/REUTERS

Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top