Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

SUMPAH PEMUDA:Inilah kisah 5 Orang Pemuda Penggerak Nasionalisme Generasi Muda

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober, semangat Sumpah Pemuda terbukti tak pernah lekang dimakan zaman. Inilah lima orang pilihan situs penggalangan dana kitabisa.com yang kepedulian mereka mampu menggerakn anak-anak muda yang lain untuk membantu sesama.
Reni Efita
Reni Efita - Bisnis.com 28 Oktober 2015  |  06:41 WIB
SUMPAH PEMUDA:Inilah kisah 5 Orang Pemuda Penggerak Nasionalisme Generasi Muda
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA --   Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober, semangat Sumpah Pemuda  terbukti tak pernah lekang dimakan zaman. Inilah lima orang pilihan situs penggalangan dana kitabisa.com yang kepedulian mereka mampu menggerakkan anak-anak muda yang lain untuk membantu sesama.

Kesadaran sebagai satu saudara sebangsa Indonesia menjadi alasannya. Melalui situs penggalangan dana kitabisa.com, kepedulian mereka mampu menggerakan anak-anak muda yang lain untuk turut membantu sesama. Siapa mereka?

Pertama Pandji Pragiwaksono, lulusan FSRD ITB ini dikenal sebagai pembawa acara, stand-up comedian, penulis buku, dan rapper. Pandji juga aktif dalam bermacam kegiatan sosial. Salah satunya ketika Pandji mengajak publik gotong royong untuk membangun kembali Masjid Tolikara melalui kitabisa.com/masjidtolikara. Hanya dalam waktu tiga hari, 300 juta rupiah yang terkumpul dari 1183 donatur untuk pembangunan kembali masjid yang rusak. Melalui akun @pandji, ia berbagi ajakan-ajakan positif untuk berkontribusi bagi Indonesia. Bukunya “Nasional. Is. Me.” mengandung pesan nasionalisme yang sangat kuat bagi anak-anak muda.

Kedua  Jenny Jusuf dikenal melalui karya-karyanya sebagai penulis. Kepeduliannya pada anak-anak pasien kanker yang seringkali harus kehilangan rambut ketika melakukan proses kemoterapi menggerakan Jenny untuk turut terlibat dalam #Shaveforhope, aksi cukur bersama sekaligus penggalangan dana dalam kitabisa.com/shavejenjus. Tak cukup itu saja, keprihatinannya pada korban bencana asap juga membuat Jenny untuk membantu melalui www.kitabisa.com/melawanasap. Untuk para korban bencana asap, Jenny berhasil mengumpulkan hingga 70 juta rupiah yang akan diberikan dalam bentuk masker, tabung oksigen, dan obat-obatan.

Ketiga Paulus Ronald B. Nono adalah mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung serta aktif dalam forum Young Leader Indonesia dan Parleman Muda 2014. Selain itu, Paulus juga mendirikan NTT Youth Project, satu gerakan sosial untuk pengembangan pendidikan di NTT. Melalui kitabisa.com/nttyouthproject, Paulus berhasil menggalang dana hingga 50 juta rupiah yang digunakan untuk distribusi 6000 lebih buku dan pembangunan perpustakaan di 5 desa di Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Atas inisiatifnya, kini anak-anak di Sikka bisa belajar lebih banyak dan melihat dunia lebih luas.

Keempat Dayu Rifanto, seorang kelahiran Nabire. Dayu Rifanto terpanggil untuk berbagi dengan saudara-saudaranya di tanah Papua. Tingkat buta huruf yang mencapai 40%, berbanding terbalik dengan besarnya potensi yang dimiliki Papua. Dengan Buku Untuk Papua, Dayu ingin mengajak orang Papua lebih banyak membaca. Melalui kitabisa.com, Dayu berhasil menggalang dana hingga 30 juta rupiah untuk distribusi sekitar 15.000 buku yang disebarkan di berbagai kota di Papua. Melalui Buku Untuk Papua, Dayu ingin membangun rumah baca pada tiap kampung di Papua.

 Kelima Dhenok Pratiwi aktif di change.org, yaitu wadah petisi online bagi siapa saja yang ingin memulai kampanye sosial demi perubahan positif, seperti upaya penyelamatan lingkungan dan penghentian eksploitasi satwa liar. Tak hanya mengupayakan perubahan-perubahan besar bersama timnya di change.org, Dhenok juga senang melakukan hal-hal kecil untuk membantu orang di sekitarnya. Seperti yang ia lakukan melalui kitabisa.com/keliktivism, ajakan sederhana kepada teman-temannya sesama aktivis untuk mengupulkan dana pendidikan bagi anak Pak Kelik, yang memang biasa membantu di kantornya.

Selain lima anak-anak muda di atas, tentu banyak sekali anak-anak muda lain yang juga peduli dan mau membantu orang-orang di sekitarnya. Hal yang membuat mereka berbeda adalah ketika mereka juga mampu mengajak lebih banyak orang untuk terlibat dalam inisiatif sosial mereka dengan turut memberi donasi. Karena ketika lebih banyak orang yang terlibat dalam satu aksi sosial, semakin besar pula dampak dan manfaat yang akan diberikan.

Semangat Sumpah Pemuda untuk menanamkan kesadaran berbangsa nyatanya tak akan lekang dimakan zaman. Anak-anak muda sekarang juga tetap menunjung tinggi kepedulian pada orang lain, tak peduli beda suku, agama, yang penting satu Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sumpah pemuda
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top