Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penanganan Lahan Gambut Bukan Seperti Pasar Malam

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan penanganan lahan gambut bukan seperti suatu kehebohan sesaat layaknya "pasar malam" melainkan mencari solusi permanen dalam penanganan kebakaran dan rehabilitasinya.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 28 September 2015  |  05:35 WIB
Petugas pemadam kebakaran dibantu personil TNI dan Polri berusaha memadamkan lahan gambut yang terbakar di Rimbo Panjang, Kampar, Riau, Sabtu (5/9). - Antara
Petugas pemadam kebakaran dibantu personil TNI dan Polri berusaha memadamkan lahan gambut yang terbakar di Rimbo Panjang, Kampar, Riau, Sabtu (5/9). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -  Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan penanganan lahan gambut bukan seperti suatu kehebohan sesaat layaknya "pasar malam" melainkan mencari solusi permanen dalam penanganan kebakaran dan rehabilitasinya.

"Saya kira diingatkan bahwa jangan seperti pasar malam setelah heboh-heboh (penanganan kebakaran) masuk musim hujan semua berhenti begitu, tidak melanjutkan. Saya kira tidak begitu karena kan perintah Presiden solusi permanen," katanya usai diskusi pakar "Tata Kelola Ekosistem, Tata Air (Hidrologi) dan Rehabilitasi Paska Kebakaran Ekosistem Gambut", Hotel Grand Kemang, Jakarta, Minggu malam (27/9/2015).

Ia mengatakan terkait solusi permanen penanganan kebakaran lahan gambut, diperlukan kerangka dasar atau kerangka berpikir dan landasan yang jelas dan berkelanjutan.

"Kalau kita bicara solusi permanen maka 'blue print'-nya harus jelas, arah kerjanya juga harus jelas dan karena dia terkait dengan perilaku alam ya tidak bisa sepotong mengikutinya," ujarnya.

Menurutnya, permasalahan lahan gambut harus melihat perkembangan di alam secara terus-menerus sehingga kebijakan atau konsep penanganan kebakaran lahan gambut dan rehabilitasinya dapat menjawab kebutuhan.

"Jadi, mengikuti ya (perilaku alam) terus tiap bulan tiap 10 hari biasanya kalau data iklim itu biasanya 10 hari sekali diserahkan kepada pengguna ya waktu saya di pemerinth daerah dulu saya pakai data itu," tuturnya.

Ia mengatakan pencegahan menjadi kunci dalam mengatasi kebakaran lahan gambut.

Ia mengatakan upaya pencegahan itu kemudian diterjemahkan ke dalam regulasi sehingga dapat dijadikan acuan penanganan lahan gambut.

"Tapi kita sudah dengar (dalam diskusi) pencegahan itu apa saja kan. Berarti itu nanti tinggal dituangkan dalam regulasi, dan dalam persyaratan-persyaratan termasuk bukan hanya kepada dunia usaha ya tapi juga pemerintah daerah bisa surat edaran sifatnya, bisa juga instruksi apa, bisa peraturan menteri, karena konteksnya lingkungan kan bisa juga instruksi presiden nanti kita lihat," tuturnya.

Selain upaya pencegahan, diskusi itu juga membahas beberapa potensi masalah lahan gambut.

Ia mengatakan potensi masalah tersebut dapat dilihat dari seluruh peristiwa yang terjadi saat ini yang mana juga dapat menghitung kira-kira resiko yang akan dihadapi setelah usainya kehebohan pemadaman api di lahan gambut.

Kemudian, diskusi itu juga membahas soal pemulihan terhadap lahan yang sudah rusak.

Ia mengatakan perspektif kelembagaan juga menjadi bahasan penting dalam diskusi itu, yang mendorong keterlibatan masyarakat yang lebih aktif.

"Jadi tadi kan terungkap bahwa yang palinh efektif itu akhirnya faktor kelembagaan jadi pengamanan gambut berbasis masyarakat," ujarnya. gitu kan.

Ia mengatakan masyarakat dapat mengembangkan agroforestri di lahan gambut sekaligus untuk proses pemulihan lahan.

"Tidak harus selalu kita khawatir terlalu jauh atau terlalu dalam kekhawatiran karena kan ternyata dia (lahan gambut) secara praktis bisa juga agroforestri jadi bisa juga dipakai untuk keperluan produktif masyarakat, bisa tanam nanas, sayuran atau padi lebak atau apapun lah nah itu masing-masing akan kita lihat lagi menurut kebutuhan program nasionalnya," katanya.



Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

menhut

Sumber : ANTARA

Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top