Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

ACDP: 7 Juta Anak-anak Putus Sekolah

Berdasarkan data Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP), pada periode 2011/2012, sebanyak 7 juta anak usia sekolah (7-19 tahun) tidak bersekolah.
Yulianisa Sulistyoningrum
Yulianisa Sulistyoningrum - Bisnis.com 12 Agustus 2015  |  21:50 WIB
Sekolah Dasar di Papua - Antara
Sekolah Dasar di Papua - Antara

Bisnis.com, JAKARTA –  Berdasarkan data Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP), pada periode 2011/2012, sebanyak 7 juta anak usia sekolah (7-19 tahun) tidak bersekolah.

Totok Amin Soefijanto, Konsultan Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) Indonesia, menyebutkan tingkat putus sekolah pada tingkat pendidikan dasar relatif rendah, yakni 1,09%  di tahun yang sama. Sementara, 95,3% lulusan SD melanjutkan ke tingkat SMP.

Meski begitu, Totok menyebutkan angka putus sekolah lebih signifikan di tingkat SMP.

“Sebanyak 1,74% siswa drop out dan 8% dari siswa yang berhasil menyelesaikan SMP tidak melanjutkan ke pendidikan menengah atas (SMA),” paparnya.

Dia menambahkan penyebab utama dari tingginya angka putus sekolah  di antaranya adalah status sosial ekonomi orangtua, jarak dari rumah ke sekolah, aspek disabilitas, hingga masih peluang perempuan untuk bersekolah yang lebih sedikit dibandingkan dengan anak laki-laki. Hal ini karena anak perempuan harus menikah dini.

“Status ekonomi yang dimaksudkan dikaitkan dengan biaya untuk seragam, makan, transportasi buku, dan perangkat pendukung lainnya. Jadi bukan hanya biaya sekolah,” ujarnya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud Thamrin Kasman mengatakan pemerintah berupaya terus meningkatkan akses pendidikan, terutama akses pendidikan anak-anak yang rentan putus sekolah.

Ia menjelaskan ketidaktersediaan ruangan kelas bukan faktor penyebab anak di Indonesia putus sekolah. “Daerah-daerah tertentu di Indonesia, rasio kelasnya di bawah 30 anak, misalnya 27 orang dan 25 sekolah. Artinya daerah memiliki banyak ruangan yang sebenarnya jika dikalkulasi belum optimal,” jelasnya.

Thamrin menjelaskan beberapa program pemerintah untuk mengurangi angka putus sekolah di antaranya adalah memberikan bantuan siswa miskin (BSM) untuk orangtua yang memiliki status ekonomi bawah. “Kalau dia putus sekolah karena finansial kita beri bantuan BSM atau program indonesia pintar,” katanya.

Thamrin menambahkan untuk meningkatkan pembelajaran, Kemendikbud akan membantu dengan BOS. "Menurut saya, halangan tersebut semakin berkurang," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Putus sekolah pendidikan dasar
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top