Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Korban Tewas Gelombang Panas Pakistan Dekati Angkat 700 Jiwa

Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif, menyerukan perlunya langkah-langkah darurat setelah gelombang panas di Provinsi Sindh menewaskan hampir 700 orang.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 24 Juni 2015  |  09:25 WIB
Korban Tewas Gelombang Panas Pakistan Dekati Angkat 700 Jiwa
Sejumlah korban meninggal akibat gelombang panas di Pakistan - Reuters
Bagikan

Kabar24.com, JAKARTA-- Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif, menyerukan perlunya langkah-langkah darurat setelah gelombang panas di Provinsi Sindh menewaskan hampir 700 orang.

Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional Pakistan (NDMA) mengatakan telah menerima perintah dari Sharif untuk bertindak cepat menangani krisis gelombang panas.

Perintah itu datang menyusul laporan dari pejabat kesehatan Provinsi Sindh, Saeed Mangnejo, bahwa sebanyak 612 orang meninggal di rumah sakit pemerintah Kota Karachi dalam kurun empat hari. Adapun 80 orang lainnya dilaporkan meninggal di rumah sakit swasta.

Kebanyakan korban adalah warga lanjut usia dari keluarga berpenghasilan rendah. Ribuan pasien juga sedang dirawat, dan sebagian besar berada dalam kondisi serius sebagaimana dikutip BBC.co.uk, Rabu (24/6/2015).

Pasukan militer sudah dikerahkan untuk membangun pusat penanganan gelombang panas di tengah suhu yang mencapai 45 derajat celsius.

Namun, upaya itu dipandang langkah yang terlambat mengingat gelombang panas telah melanda sejak empat hari lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pakistan gelombang panas

Sumber : bbc.co.uk

Editor : Andhina Wulandari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top