Jeruk Keprok 55 Jadi Andalan Kota Batu Selain Apel

Jeruk Keprok 55 bisa menjadi andalan komoditas buah-buahan dari Kota Batu, Jawa Timur, selain apel menyusul terus menyusutnya lahan pertanian apel di wilayah setempat.
M. Sofi’I
M. Sofi’I - Bisnis.com 30 Maret 2015  |  19:39 WIB
Jeruk Keprok 55 Jadi Andalan Kota Batu Selain Apel
Jeruk Keprok 55 andalan Kota Batu, Malang. - Litbang Pertanian
Bisnis.com, BATU - Jeruk Keprok 55 bisa menjadi andalan komoditas buah-buahan dari Kota Batu, Jawa Timur, selain apel menyusul terus menyusutnya lahan pertanian apel di wilayah setempat.
 
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanhut) Kota Batu, Sugeng Pramono, mengatakan kebun apel di Kota Batu terus mengalami penyusutan dari tahun ke tahun.
 
“Penyusutan sudah terlihat nyata. Dalam kurun 20 tahun terakhir tanaman apel yang tumbuh subur di desa Oro-oro Ombo, Sidomulyo dan desa Pandanrejo misalnya sudah sulit ditemui,” kata Sugeng, Senin (30/3/2015).
 
Sehingga perkebunan apel saat ini cenderung diusahakan di wilayah Batu bagian atas utamanya di desa Tulungrejo, Bumiaji, Giripurno, Bulukerto dan desa Sumbergondo.
 
Padahal dulunya hampir semua tegalan di Kota Batu ditanami buah subtropis tersebut. Selain faktor peralihan lahan menjadi kawasan permukiman, susutnya kebun apel di Batu bagian bawah juga akibat menurunnya tingkat kelembaban udara dan kualitas tanah.
 
Sementara tanaman apel membutuhkan kelembaban udara yang tinggi. Karena di kecamatan Batu sudah banyak yang beralih fungsi menjadi permukiman dan hutannya semakin menyempit, akibatnya kelembaban udara menjadi turun.
 
“Akibatnya tanaman apel tidak bisa tumbuh dengan baik. Selain itu produksi buahnya juga menurun. Bahkan kualitas buahnya juga menjadi jelek,” jelas dia.
 
Perkebunan apel yang kurang produktif oleh petani akhirnya diganti komoditas tanaman pertanian lainnya seperti sayur mayur, bunga dan jeruk. Di desa Sumberejo, Sidomulyo dan desa Gunungsari misalnya, kebun apel sudah berubah menjadi budi daya bunga dalam kurun15 tahun terakhir.
 
“Adapun,  di Bumiaji tanaman apel diganti dengan komoditas jeruk dan sayur mayur,” ujarnya.
 
Namun begitu tidak sedikit kebun apel terutama di daerah tegalan yang dibiarkan begitu saja. Distanhut menyanyangkan kondisi tersebut karena masih bisa diupayakan untuk menanam komoditas lainnya.
 
Karena itu Distanhut mengajak petani agar memanfaatkan lahan bekas perkebunan apel tersebut untuk budi daya jeruk Keprok 55. Lahan yang tersebar di lima desa yakni desa Bumiaji, Bulukerto, Sumbergondo, Punten dan desa Tulungrejo telah dilakukan revitalisasi menggunakan pupuk organik sebanyak 400 ton pada 2013 lalu.
 
Lahan tersebut direvitalisasi sebelum ditanami jeruk Keprok 55. Untuk pengembangan jeruk tersebut Distanhut bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Sub Tropika (Balitjestro) Kota Batu  untuk penyediaan bibit, peningkatan SDM dan konsultasi teknis.
 
“Minat petani untuk menanam jeruk Keprok 55 cukup baik. Terbukti permintaan bibit jeruk dari Balitjestro terus meningkat,” ujarnya.
 
Selain itu luas areal lahan kebun jeruk Keprok tiap tahun juga terus meningkat karena banyak perkebunan apel yang diganti dengan tanaman jeruk. Ke depan Pemkot Batu berharap ke depan produksi buah di Kota Batu mampu bersaing dengan produk buah impor untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.
 
Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, mengatakan jeruk Keprok 55 dari sisi rasa  enak dan tidak kalah dengan jeruk impor.  Bahkan banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang mengakuinya.
 
“Batu kaya akan potensi buah. Karena itu pengembangan maupun budidayanya harus dikembangkan agar tidak kalah bersaing dengan buah impor,” tambah dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kota batu, jeruk kino

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top