Kinerja Ekspor Bali Melambat

Nilai ekspor dari Bali masih mengalami perlambatan pertumbuhan, terlihat sepanjang periode Januari-Desember 2014, hanya tumbuh 1,48% menjadi US$536 juta, dari periode sama tahun sebelumnya US$528 juta.
Feri Kristianto | 02 Februari 2015 16:53 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Kabar24.com, DENPASAR--Nilai ekspor dari Bali masih mengalami perlambatan pertumbuhan, terlihat sepanjang periode Januari-Desember 2014, hanya tumbuh 1,48% menjadi US$536 juta, dari periode sama tahun sebelumnya US$528 juta.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara tujuan utama ekspor seperti Amerika Serikat‎ diduga ikut menyebabkan nilai ekspor barang dari Pulau Dewata belum kunjung meningkat signifikan.

‎Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat, Amerika Serikat merupakan salah satu tujuan utama ekspor barang dari Pulau Dewata selain Jepang, Singapura, Australia dan Hongkong.  

Namun hingga akhir tahun lalu, nilai ekspor ke AS US$114,87 juta, turun 0,56% dibandingkan periode tahun sebelumnya. Penurunan juga terjadi untuk ekspor tujuan Jepang sebesar 4,02% menjadi US$61,5 juta.

Komoditas ekspor dari Bali seperti kapas, ikan dan udang, daging dan ikan olahan, kayu dan barang dari kayu, jerami, barang rajutan, pakaian jadi bukan rajutan, berbagai barang llohal dasar, serta barang-barang dari kulit.‎ Dari berbagai komoditas tersebut, ekspor terbesar didominasi produk kerajinan hingga 40%.

Menurut Kepala BPS Bali Panusunan Siregar, belum pulihnya perekonomian di AS sangat mempengaruhi kinerja ekspor Bali.‎ Dia menyatakan eksportir Bali harus berani melakukan diversifikasi dengan mengincar pasar negara-negara berkembang seperti di Timur Tengah dan Afrika Selatan.

"Kalau tidak akan seperti sekarang stagnan, harus berani untuk mengalihkan negara seperti di Afrika dan Timur Tengah yang memiliki potensi besar," jelasnya, Senin (2/2/2015).

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali Made Swastika mengungkapkan‎ sebetulnya kualitas ekspor produk Bali tidak kalah dari negara lain. Dia mengungkapkan sudah mensosialisasikan kepada eksportir untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara seperti Asia Tenggara karena memiliki potensi besar.

Menurutnya, produk yang memiliki potensi adalah kerajinan, karena produk dari Bali memiliki nilai seni tinggi dibandingkan negara lain. Dengan kemampuan menghasilkan produk berkualitas, diyakini dapat meningkatkan daya saing produk ekspor Bali.

"Terutama untuk eksportir kayu, salah satu hal yang terus kami dorong adalah memiliki sertifikasi," tuturnya.

Sekretaris Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Bali Luther Teguh Margono‎ mengakui ekspor Bali mulai menunjukkan titik cerah khususnya ke Amerika Serikat. Dia mengatakan sejak tahun lalu, permintaan ekspor ke negara berjuluk Paman Sam sudah mulai berdatangan.

Beberapa anggota AMKRI juga merasakan hal sama dengan masih adanya permintaan pengiriman produk terutama untuk segmen kalangan menengah atas.

"Sejak 2008 lalu tidak ada permintaan, tetapi 2014 ada tiga pengiriman dari buyers yang berbeda. Ini surprise buat kami," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, kinerja ekspor

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top