Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gawat, Pengidap HIV/AIDS di Batu Meningkat, Ibu Rumah Tangga Terserang

Penderita HIV/Aids di Kota Batu, Jawa Timur, cenderung menunjukkan tren yang meningkat. Kondisi tersebut mengundang keprihatinan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu karena penderitanya termasuk ibu rumah tangga.
M. Sofi’I
M. Sofi’I - Bisnis.com 25 Januari 2015  |  18:40 WIB
Ada yang menangis tersedu-sedu, ada yang ekspresinya dingin-dingin saja.  - Bisnis.com
Ada yang menangis tersedu-sedu, ada yang ekspresinya dingin-dingin saja. - Bisnis.com

Kabar24.com, BATU - Penderita HIV/Aids di Kota Batu, Jawa Timur, cenderung menunjukkan tren yang meningkat. Kondisi tersebut mengundang keprihatinan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu karena penderitanya termasuk ibu rumah tangga.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu, Sri Rahati, mengatakan saat ini tercatat ada 136 penderita HIV/Aids yang tinggal di Kota Batu. Dari jumlah itu 50 penderita di antaranya sudah meninggal dunia.

“Yang mengejutkan penderita HIV/AIDS ini ternyata adalah ibu rumah tangga. Mereka menjadi subyek yang paling rentan tertular HIV/AIDS. Rata-rata ibu rumah tangga yang tertular HIV itu disebabkan karena tertular oleh suaminya,” kata Sri Rahati, Minggu (25/1/2015).

Penderita HIV/AIDS yang dari tahun ke tahun meningkat itu membuat dinas waspada. Pada 2013 tercatat ada 7 penderita baru, dan pada 2014 tercatat ada 9 penderita baru. Jumlah penderita lebih banyak laki-laki.

Sejauh ini Dinkes mengaku kesulitan untuk melakukan pemantauan kesehatan masyarakat terkait penderita HIV/AIDS.  “Pasalnya yang menjadi korban tidak sedikit yang ibu rumah tangga. Memang tidak ada lokalisasi di Batu namun praktek seks komersil masih tetap ada,” jelas dia.

Praktek seks diam-diam inilah yang mengakibatkan Dinkes kesulitan untuk mendeteksi pekerja seks komersial (PSK) mana yang mengidap penyakit mematikan tersebut atau tidak.

Yang bisa dilakukan Dinkes lanjut dia adalah memantau para pekerja hiburan yang ada di Kota Batu. Dalam hal ini Dinkes turun langsung ke lapangan guna melakukan pemeriksaan kesehatan bekerjasama dengan pengelola tempat hiburan.

"Tim Infeksi Menular Seksual (IMS) secara rutin turun ke lapangan. Mereka tidak hanya melakukan pemeriksaan kesehatan, namun juga menguatkan mental para penderita HIV/AIDS,” ujarnya.

Dinkes juga menyiapkan pemeriksaan khusus untuk masyarakat yang ingin tahu kondisi kesehatannya. Pemeriksaan bisa dilakukan dengan rapid test, yang biayanya hanya Rp50.000.

Bekerja Ekstra

Icang Sarrazin, Kepala Puskesmas Kota Batu, mengatakan untuk menjaring penderita HIV/AIDS tim IMS harus bekerja ekstra. Pasalnya penderita jarang sekali mau memeriksakan diri di instalasi kesehatan umum seperti Puskesmas.

“Para penderita ini cenderung menghindari instalasi kesehatan umum yang ramai. Karena itu jika ada penderita seperti ini kami menerapkan pengobatan privat. Hanya saya dan penderita saja. Bahkan perawat berada di luar,” tambah dia.

Dari data yang ada penderita termuda berusia 19 tahun sementara penderita tertua berusia 50 tahun. Rata-rata para penderita HIV/AIDS baru datang berobat saat terjadi penurunan daya tahan tubuh.

Sewaktu penyakit yang diderita tidak sembuh-sembuh, mereka baru periksa ke dokter. Ekspresi mereka pun beragam saat mengetahui kalau tertular HIV/AIDS. “Ada yang menangis tersedu-sedu, ada yang ekspresinya dingin-dingin saja,”  sambungnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hiv/aids
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top