Industri Fiber Minta Kenaikan TDL Agar Tidak Terlalu Memberatkan

Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia meminta pemerintah baru menetapkan kebijakan tarif dasar listrik yang tidak memberatkan bagi kalangan industri mengingat daya saing pasar bebas Asean diberlakukan tahun depan.
Adi Ginanjar Maulana
Adi Ginanjar Maulana - Bisnis.com 17 Oktober 2014  |  15:16 WIB
Industri Fiber Minta Kenaikan TDL Agar Tidak Terlalu Memberatkan
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, BANDUNG - Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia meminta pemerintah baru menetapkan kebijakan tarif dasar listrik yang tidak memberatkan bagi kalangan industri mengingat daya saing pasar bebas Asean diberlakukan tahun depan.

Apsyfi menilai kenaikkan tarif listrik sepanjang 2014 bagi kalangan industri besar cukup memberatkan sehingga biaya produksi terkerek naik.

Sekjen Apsyfi Redma Gita Wiraswasta mengungkapkan sejauh ini kenaikkan TDL tidak berpihak kepada para pelaku industri, sehingga menjadi beban tersendiri terlebih dalam kondisi persaingan bisnis yang semakin ketat.

"Jika dulu beban listrik hanya sekitar 20%-25%, saat ini sudah meningkat menjadi 30%. Seharusnya para pelaku industri termasuk industri hulu tekstil mendapatkan listrik yang bersubsidi," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (17/10).

Memasukki kuartal III/2014 harga jual produk serat fiber sintetis naik sebesar 13,4% atau sebesar U$0,25/kg dari US$1,5/kg menjadi US$1,75/kg. Penaikkan tersebut akibat listrik memiliki kontribusi sebesar 20-25% dari total biaya produksi.

"Kenaikan TDL otomatis meningkatkan beban produksi, mau tidak mau industri harus menaikkan harga jual produk serat fiber sintetis," katanya.

Penaikkan listrik pun berdampak pada produsen tekstil dalam negeri mayoritas saat ini mengimpor bahan baku kapas yang lebih murah dibandingkan serat fiber sintetis.

Dia menjelaskan industri serat sintetis termasuk sektor yang memiliki daya saing lemah terhadap produk impor.

"Harga naik 5% saja industri di bawah akan lebih memilih produk dari Tiongkok yang harganya sedikit lebih murah,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta pemerintah tegas menaikkan TDL pada semua kalangan termasuk rumah tangga, apabila memang menilai tidak dapat mensubsidi lagi biaya kebutuhan listrik yang sekarang ada.

Menurutnya, jangan sampai pelaku industri nantinya masih harus menanggung beban kenaikkan TDL yang lebih karena pemerintah tidak berani menaikan TDL kalangan rumah tangga.

Asosiasi Pengusaha Indonesia Jawa Barat menilai perlu adanya pengalihan sebagian subsidi dari bahan bakar minyak (BBM) ke listrik bagi industri pada tahun depan guna menekan efisiensi biaya operasional.

Ketua Apindo Jabar Dedy Widjaja mengatakan kenaikkan listrik bagi industri menengah dan besar sepanjang 2014 cukup mengerek biaya hingga 10%.

"Sebagian subsidi BBM sangat diperlukan untuk listrik meskipun beban kenaikkan biaya listrik yang dialami industri cukup kecil," ujarnya.

Dedy menjelaskan keuntungan pengalihan subsidi sebagian dari BBM ke listrik tidak bisa dimanipulasi. Sebab, pemakaian listrik sudah dikontrol jelas oleh institusi terkait.

“Dari awal kami sudah berpandangan kepada pemerintah untuk memperbesar subsidi listrik bukan BBM," katanya.

Dia juga menyarankan pemerintah untuk memperbanyak kawasan industri untuk penghematan penggunaan listrik bagi industri. “Pemerintah harus sudah memperbanyak kawasan industri untuk menghemat listrik."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kenaikan tdl

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top