Ramadan, Pasokan Beras Sumsel Dipastikan Aman

Pemprov Sumsel memastikan kondisi pasokan beras selama bulan puasa tergolong aman atau tidak akan mengalami kekurangan suplai seiring produksi padi di tingkat petani yang cukup lancar.
Dinda Wulandari | 02 Juli 2014 16:04 WIB
Menghitung stok beras. Pasokan di Sumsel dipastikan aman

Bisnis.com, PALEMBANG – Pemprov Sumsel memastikan kondisi pasokan beras selama bulan puasa tergolong aman atau tidak akan mengalami kekurangan suplai seiring produksi padi di tingkat petani yang cukup lancar.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sumsel, Taufik Gunawan, mengatakan sejak Januari – Mei 2014 realisasi produksi beras sudah mencapai 1,12 juta ton.

“Untuk pasokan beras saya pikir tidak ada masalah karena produksi lancar apalagi nanti masuk panen berikutnya,” katanya, Rabu (2/7/2014).

Berdasarkan data Dewan Ketahanan Pangan Sumsel, kebutuhan beras masyarakat Sumsel saat kondisi normal sebanyak 67.044 ton per bulan.  Sementara kebutuhan saat bulan puasa diperkirakan meningkat jadi 73.749 ton per bulan.

Taufik mengatakan, merujuk data realisasi produksi padi dan beras secara bulanan di provinsi itu,  pihaknya menilai produksi selalu di atas kebutuhan.

“Sebetulnya jika mau dihitung secara tahunan  maka produksi yang ada saat ini bisa mencapai target pada 2014,” ujarnya.

Meski pemerintah daerah optimistis produksi padi tahun ini bisa mencapai target namun Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel memproyeksi produksi padi 2014 berpotensi turun dibandingkan tahun sebelumnya.

BPS Sumsel menghitung angka ramalan I/2014 untuk produksi padi Sumsel mencapai 3,56 juta ton gabah kering giling (GKG). Sementara dalam angka tetap produksi padi 2013 yang dirilis badan tersebut tercatat sebanyak 3,68 juta ton GKG.

Kepala BPS Sumsel Bachdi Ruswana mengatakan penurunan produksi padi tahun ini diperkirakan karena adanya penurunan pada luas panen dan produktivitas tanaman.

“Luas panen kami proyeksi turun sebanyak 17.220 hektare atau 2,15% dan produktivitas turun sebanyak 0,46 kuintal per ha atau 1%,” katanya.

Menurut dia, penurunan produksi padi juga seiring dengan tren penurunan jumlah rumah tangga yang bergerak di usaha pertanian tanaman itu.

mengatakan dari hasil pencacahan lengkap sensus pertanian 2013 terlihat adanya penurunan jumlah rumah tangga usaha tanaman padi sebanyak 16,55%.

“Pada sensus pertanian yang kami lakukan pada 2003 lalu jumlah petani sebanyak 457.657 rumah tangga sementara hasil sensus 2013 menunjukkan tinggal 381.898 rumah tangga,” katanya.

Bachdi mengkhawatirkan penurunan jumlah masyarakat yang bergerak di tanaman pangan itu terjadi kembali pada 2023 atau sepuluh tahun mendatang.

Dia mengatakan, penurunan tersebut tidak hanya terjadi pada tanaman padi, melainkan juga tanaman hortikultura, seperti bawang merah, cabai rawit dan jeruk.

Adapun rata-rta pendapatan rumah tangga pertanian di provinsi itu pada tahun lalu sebanyak Rp23,01 juta per tahun atau Rp1,92 juta per bulan. Nilai tersebt masih di atas upah minimum provinsi (UMP) yang sekitar Rp1,8 juta per bulan.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumsel

Editor : Ismail Fahmi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top