Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kenaikan TDL: Perang Tarif Hotel di Malang Kian Membara

Penaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 30% pada Mei mendatang bakal menjadikan persaingan tarif kamar hotel di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu) kian membara.
M. Sofi’I
M. Sofi’I - Bisnis.com 24 April 2014  |  14:46 WIB
Ilustrasi/Tugu Kota Malang
Ilustrasi/Tugu Kota Malang

Bisnis.com, MALANG -- Penaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 30% pada Mei mendatang bakal menjadikan persaingan tarif kamar hotel di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu) kian membara.

Edi Wahyudi, General Manager Hotel Aria Gajayana yang juga Ketua Paguyuban General Manager Hotel Kota Malang, mengatakan TDL belum naik saja tarif kamar hotel di Malang sudah bersaing.

“Sebelum TDL, komponen lain seperti bahan bakar minyak (BBM), gas elpiji, maupun upah minimum kota/kabupaten (UMK) sudah lebih dulu naik yang membawa konsekuensi atas naiknya biaya operasional,” kata Edi Wahyudi di Malang, Kamis (24/4/2014).

Namun begitu, faktor utama yang menjadi pemicu terjadinya persaingan tarif kamar adalah maraknya pendirian hotel bintang baru di Kota Malang. Sehingga hotel saling menawarkan tarif kamar yang tidak jarang relatif murah untuk ukuran skala bintang misalnya bintang empat.

Kenyataan itu membuat pihaknya meragukan data yang kerap disebut Pemkot Malang jika Kota Malang masih kekurangan sekitar 2.000 kamar. Dengan begitu masih memungkinkan hotel baru untuk berdiri.

“Data jika Malang masih kekurangan kamar acuannya dari mana, jangan hanya dilihat pada waktu week end atau hari libur, namun kondisi week day yang relatif sepi harus jadi perhatian serius agar pemkot tidak mudah membuka kran izin bagi hotel baru berdiri,” jelas dia.

Director of Sales&Marketing Hotel Aria Gajayana Malang, Ratna Dwi Rachmawati, mengatakan maraknya pendirian hotel baru juga ditandai tren penurunan okupansi.

“Tahun lalu okupansi per bulan rata-rata di angka 65%, pada kuartal I/2014 okupansi turun menjadi rata-rata 55%-58% per bulan,” sebutnya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Herman Maryono, mengatakan data bahwa Malang masih kekurangan kamar juga patut dipertanyakan.

“Dengan kondisi yang ada saat ini saja hotel sudah bersaing dalam hal tarif kamar . Karena itu kami sarankan agar hotel tidak menaikkan tarif untuk mengimbangi TDL karena bisa memicu matinya hotel lain yang kalah bersaing,” ujarnya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Uddy Syaifudin, mengatakan guna menyikapi penaikan TDL pihaknya telah melakukan pertemuan dengan anggota PHRI.

“Intinya dalam pertemuan tersebut kami sarankan agar teman-teman di PHRI lebih melakukan penghematan dan tidak keburu menaikkan tarif kamar,” tambah dia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kenaikan tdl
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top