Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

APRIL Tingkatkan Pengelolaan Hutan Lestari

Aang Ananda Suherman
Aang Ananda Suherman - Bisnis.com 28 Januari 2014  |  20:43 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, PEKANBARU-Asia Pasific Resources International Limited (APRIL) selaku induk perusahaan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) berkomitmen menaikkan level pengelolaan hutan lestari untuk memastikan seluruh bahan baku kayu yang dimanfaatkan berasal dari hutan tanaman yang berkelanjutan.

APRIL sebagai produsen bubur kayu dan kertas terbesar nomor dua di Asia menyatakan program ini akan dipantau oleh komite penasehat dari sejumlah lembaga independen termasuk organisasi lingkungan WWF. Komite tersebut nantinya akan menunjuk auditor untuk melakukan verifikasi dan melaporkan perkembangan komitmen APRIL.

“Kebijakan ini melampaui komitmen yang pernah kami buat sebelumnya. Keberadaan komite penasehat parapihak independen akan memastikan kebijakan tersebut dilaksanakan secara transparan,” kata Presiden APRIL Praveen Singhavi melalui keterangan tertulisnya, Selasa (28/1).

Program pengelolaan hutan lestari itu diluncurkan di Jakarta yang dihadiri Menteri Kehuatanan Zulkifli Hasan dan sejumlah organisasi lingkungan. Peningkatan komitmen APRIL juga mendapat dukungan dari Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Stig Traavik.

Dengan komitmen yang diperbaharui, maka APRIL akan melakukan moratorium pengembangan hutan tanaman pada lahan yang kajian hutan bernilai konservasi tinggi (high conservation value forest/HCVF) yang belum selesai.

APRIL juga memastikan pengembangan hutan tanaman baru akan selesai pada Desember 2014. Hal itu memastikan pada 2019 seluruh bahan baku kayu akan berasal dari tanaman.

Selain itu, APRIL juga akan menaikan dua kali lipat program restorasi hutan yang kini dijalankan menjadi 40.000 hektare. Perusahaan ini juga mengupayakan areal konservasi yang setara dengan luas hutan tanamannya.

Menhut Zulkifli Hasan mendukung komitmen APRIL yang selama ini telah melakukan praktik terbaik pengelolaan hutan tanaman dan melakukan kajian HCVF sejak tahun 2005. Zulkifli mengharapkan perusahaan terus mengembangkan kemitraan baik dengan masyarakat maupun dengan institusi lain, termasuk organisasi lingkungan, yang peduli dengan pengembangan hutan tanaman di Indonesia.

Dalam pernyataan terpisah, Dubes Norwegia untuk Indonesia Stig Traavig menyatakan keterlibatan masyarakat memastikan integritas kebijakan APRIL. “Keterbukaan dan pemantauan independen adalah kunci agar kebijakan APRIL berhasil,” katanya.

Norwegia adalah negara pelopor yang menyerukan perlindungan hutan sebagai upaya untuk menekan emisi gas rumah kaca secara global. Menurut Stig, sektor privat memainkan peran penting untuk berkontribusi merealisasikan target Indonesia untuk mengurangi emisi dari deforestasi sebanyak 80% pada tahun 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

konservasi hutan
Editor : Asep Dadan Muhanda
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top