Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gaza Rayakan Lebaran di Tengah Keterpurukan Ekonomi

Bisnis.com, JAKARTA-  Tidak semua orang beruntung dapat merayakan Idulfitri di tengah kecukupan. Sebagian besar warga Gaza tetap antusias menyambut datangnya Hari Raya umat Islam itu, meskipun kondisi ekonomi Palestina sedang terpuruk.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 07 Agustus 2013  |  13:22 WIB
Gaza Rayakan Lebaran di Tengah Keterpurukan Ekonomi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA-  Tidak semua orang beruntung dapat merayakan Idulfitri di tengah kecukupan. Sebagian besar warga Gaza tetap antusias menyambut datangnya Hari Raya umat Islam itu, meskipun kondisi ekonomi Palestina sedang terpuruk.

Ahmed Helmi, seorang penjaga toko aksesoris wanita di Gaza mengaku gerai-gerai dan vendor di kota yang menjadi lahan sengketa antara Palestina—Israel itu mengalami kerugian bisnis selama setahun terakhir.

“Kami hanya menunggu momen-momen seperti libur Idufitri untuk mulai menutupi kerugian kami,” ujar penjaga toko berusia 26 tahun itu, sebagaimana dilaporkan oleh Xinhua.

Dia menambahkan aktivitas bisnis di Gaza tidaklah cemerlang sejauh ini. Banyak pengusaha yang tidak tahu apa yang akan terjadi dengan bisnis mereka setelah hari raya berakhir, karena kondisi ekonomi Palestina yang masih kacau akibat seteru dengan Israel dan perpecahan internal di tubuh Palestina.

Akhir Ramadan di Gaza sendiri diperkirakan jatuh pada Rabu (7/8/2013), sementara umat muslim di seluruh dunia akan merayakan libur 3 hari untuk memperingati berakhirnya bulan puasa.

Bagi masyarakat miskin Palestina di Jalur Gaza, Idul Fitri merupakan sebuah kesempatan untuk bergembira dan menggenjot konsumsi karena para orang tua berbondong-bondong membeli pakaian dan sepatu untuk anak mereka, dan para istri menyiapkan hidangan mewah untuk keluarga besar.

Selama libur Idulfitri, jalanan utama di pusat kota Gaza menjadi sibuk. Akan ada banyak pejalan kaki yang terlihat menenteng tas belanja berisi kaos, celana panjang, dan sepatu. Sebagian lainnya memborong permen, tepung, dan mentega untuk membuat kue Lebaran.

Majed Mattar, seorang warga yang memiliki 6 anak, mengaku tidak peduli dirinya memiliki uang ataupun tidak, dia harus memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya pada hari raya. Dia harus membelikan pakaian dan sepatu baru, serta uang untuk membeli mainan baru.

Berdasarkan laporan yang dirilis oleh pemerintah Palestina dan pihak internasional, angka kemiskinan di Jalur Gaza mencapai lebih dari 60%. Sementara itu, tingkat pengangguran di kawasan tersebut merangkak naik ke kisaran 35%, terutama akibat perang melawan Israel serta perpecahan antara kubu Hamas dan Fatah.

Jalur Gaza memiliki populasi sekitar 1,8 juta jiwa dan telah berada di bawah blokade Israel sejak Hamas secara paksa mengambil alih kekuasaan di wilayah tersebut pada Juni 2007.

 Untuk membendung serangan Israel, warga setempat menggali ribuan terowongan di bawah garis perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir guna menyelundupkan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan. Akan tetapi, dalam 3 tahun terakhir lebih dari 80% terowongan tersebut telah dihancurkan. (ltc)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

palestina hamas fatah israel jalur gaza idul fitri 1 syawal

Sumber : Xinhua

Editor : Linda Teti Silitonga
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top