Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Panah Ketiga Abenomics Lihat Serangan Tarif Impor Daging

BISNIS.COM, TOKYO—Sebagai negara importir daging sapi dan babi terbesar di Asia, Jepang kemungkinan akan sepakat untuk menghapuskan cukai daging setelah berpartisipasi dalam perundingan dagang dengan Amerika Serikat (AS) yang akan dihelat pada
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 04 Juli 2013  |  01:58 WIB
Panah Ketiga Abenomics Lihat Serangan Tarif Impor Daging

BISNIS.COM, TOKYO—Sebagai negara importir daging sapi dan babi terbesar di Asia, Jepang kemungkinan akan sepakat untuk menghapuskan cukai daging setelah berpartisipasi dalam perundingan dagang dengan Amerika Serikat (AS) yang akan dihelat pada bulan ini.

Masayoshi Honma, Profesor Ekonomi Agrikultur di University of Tokyo mengatakan Perdana Menteri Shinzo Abe tidak akan diizinkan untuk mengurangi lebih dari 5% produk daam negosiasi tersebut.

“Jepang hanya dapat melindungi beras dan gula. Akan sangat sulit untuk melindungi produk susu karena Australia dan Selandia Baru berniat membuka sektor tersebut. Lagipula, bea terhadap daging babi dan sapi sudah cukup rendah dibandingkan dengan barang-barang lain yang lebih sensitif,” jelas Honma.

Tarif impor daging babi dan sapi di Jepang masing-masing adalah 4,3% dan 38,5%. Sementara itu, tarif impor beras—yang merupakan makanan pokok negara tersebut—adalah 778%.

Penghapusan tarif akan membuka peluang yang lebih besar bagi banyak perusahaan, mulai dari eksportir daging AS Tyson Foods hingga eksportir produk susu Selandia Baru Fonterra Cooperative Group. Selain itu, kebijakan tersebut akan mengurangi biaya yang harus ditanggung oleh produsen makanan domestik seperti Nippon Meat Packers dan Meiji Holdings.

Tidak hanya itu, eliminasi bea dapat menyatukan kelompok oposisi petani Jepang di saat Partai Demokrat Liberal mengadakan pemilihan majelis tinggi pada bulan ini. Hal tersebut dapat mendongkrak dukungan bagi kebijakan ekonomi Jepang yang kini dikenal sebagai Abenomics.

Abe telah menetapkan tujuan untuk menggandakan nilai ekspor makanan menjadi 1 triliun yen (US$10 miliar) pada 2020, sebagai bagian dari strategi pertumbuhan Abenomics. Strategi itu dia sebut sebagai ‘panah ketiga’ yang dimulai dengan melakukan pelonggaran ekonomi dan pemberian stimulus fiskal.

Abe juga mendorong upaya Jepang untuk bergabung dengan 11 negara lainnya dalam kerangka kerja sama ekonomi Trans-Pacific Partnership (TPP) dengan total produksi gabungan senilai US$26 triliun.

Duta Besar Jepang untuk AS pada pekan lalu menyampaikan adanya desakan untuk meninjau kebijakan yang menopang industri domestik di saat pemerintah berniat untuk membangkitkan perekonomian dan bergabung dalam TPP. Negosiasi TPP itu sendiri akan digelar pada 15-25 Juli di Malaysia.

“Sangat jelas bahwa permintaan produk pangan Jepang akan menyusut karena populasi yang terus menurun dan bertambah tua,” ujar Satoshi Shimomura, Dirjen Japan External Trade Organization. Untuk itu, lanjutnya, Jepang harus menargetkan angka pertumbuhan konsumen kelas menengah keatas di pasar Asia yang lain. (Bloomberg/Wike D. Herlinda)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang impor daging sapi bab i babi
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top