ORANG-ORANG KAYA Indonesia ternyata haus investasi

JAKARTA: Kelompok mayarakat kaya di Indonesia  dinilai paling ambisius dalam berinvestasi guna meningkatkan kekayaan dalam jangka waktu dekat.Hal tersebut merupakan potensi besar bagi bisnis wealth management perbankan dan lembaga keuangan lainnya.
Sutan Eries Adlin
Sutan Eries Adlin - Bisnis.com 27 April 2012  |  18:39 WIB

JAKARTA: Kelompok mayarakat kaya di Indonesia  dinilai paling ambisius dalam berinvestasi guna meningkatkan kekayaan dalam jangka waktu dekat.Hal tersebut merupakan potensi besar bagi bisnis wealth management perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Namun sayangnya, sebagian potensi dana tersebut tidak mampu terserap, karena kurang lengkapnya instrumen investasi di Indonesia dibandingkan dengan sejumlah negara lain.Djumariah Tenteram, General Manager Priority and International Banking Standard Chartered Bank, mengatakan kelompok masyarakat affluent (menengah ke atas) di Indonesia paling optimis dapat meningkatkan kekayaan dibandingkan dengan beberapa negara di Asia."Sebanyak 98% segmen affluent berharap kekayaannya meningkat dalam 12 bulan ke depan. Mereka paling agresif dengan menginginkan rerata tingkat imbal hasil sebesar 18% per tahun untuk mencapai aspirasi financial US$2,9 juta [setara dengan Rp26,1 miliar] dalam waktu 7 tahun mendatang,” ujarnya dalam paparan Future Priority Report 2011, hari ini, Jumat 27 April 2012.Future Priority Report merupakan survei yang dilaksanakan oleh Standard Chartered Bank dengan bekerja sama Scorpio Partnership, sebuah firma konsultan khusus wealth management. Mereka melakukan survei terhadap 2.700 segmen affluent di sembilan negara di Asia.Keinginan masyarakat kaya tersebut, menurut Djumariah, tidaklah berlebihan karena pada survei tersebut 67% responden di Indonesia berhasil meningkatkan kekayaan dalam setahun terakhir.“Memang ada juga masyarakat yang gagal dalam berinvestasi tapi sebagian besar bisa meningkatkan kekayaan dalam 12 bulan terakhir.”Kelompok masyarakat kaya tersebut memilih emas sebagai pilihan investasi utama dengan jumlah responden sebanyak 71%. Adapun pilihan investasi selanjutnya adalah properti di luar rumah yang ditempati dan deposito. “Minat untuk investasi emas di Indonesia tertinggi di antara pasar-pasar lain di Asia,” jelasnya.Namun, survei yang sama juga menampilkan bahwa masyarakat kaya Indonesia optimis  terhadap peluang investasi di pasar internasional. Sebanyak 84% responden memahami perlunya mengambil peluang investasi di Asia dan 63% melihat prospek di Eropa.Djumariah mengakui investasi penduduk Indonesia di luar negeri sedikit banyak dipengaruhi oleh keterbatasan produk di dalam negeri.Misalnya, lanjutnya, investasi emas di Indonesia masih dilakukan secara tradisional, yakni membeli dan menyimpan logam mulia dan menunggu harganya naik.“Padahal di luar negeri, masyarakat bisa berinvestasi tanpa harus memiliki produk emas. Misalnya lewat ETF [exchange traded fund] dengan underlying emas,” jelasnya.Keterbatasan instrumen investasi, lanjutnya, terjadi karena ada sejumlah regulasi yang dikeluarkan otoritas sehingga bank dan lembaga keuangan tidak bisa kreatif dalam membuat produk yang sama seperti di luar negeri.“Sebenarnya masyarakat Indonesia masih nyaman untuk berinvestasi di dalam negeri karena pertumbuhan ekonomi dalam negeri bagus dalam 2—3 tahun terakhir. Namun cukup disayangkan kita gak bisa memberikan produk yang cukup bagi mereka.”Irman A. Zahiruddin, Direktur PT Bank Tabungan Negara Tbk sekaligus Wakil Ketua Certified Wealth Managers Association (CWMA), mengakui kalangan paling atas di Indonesia memang kekurangan instrumen investasi derivatif yang terbatas di Indonesia.“Kalangan paling pucuk atas menempatkan dana di luar negeri dalam bentuk financial derivative yang memiliki imbal hasil besar namun juga berisiko tinggi.” (faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top