SERBA SERBI: MENKES sakit dan pesakitan

Seorang teman mengirim postingan ke BBM (BlackBerry Messenger) Groups dan mengatakan "kalau menteri kesehatannya saja sakit, bagaimana dia bisa memikirkan kesehatan masyarakat?"Sejenak tertegun dengan isi SMS tersebut, karena secara berbarengan,
Lingga Sukatma Wiangga
Lingga Sukatma Wiangga - Bisnis.com 26 April 2012  |  16:43 WIB

Seorang teman mengirim postingan ke BBM (BlackBerry Messenger) Groups dan mengatakan "kalau menteri kesehatannya saja sakit, bagaimana dia bisa memikirkan kesehatan masyarakat?"Sejenak tertegun dengan isi SMS tersebut, karena secara berbarengan, mantan Menkes Siti Fadillah Supari pun tengah jadi pesakitan alias menjadi tersangka atas kasus korupsi pengadaan alat-alat kesehatan.Perbincangan berlanjut pada kiriman teman saya tersebut yang bertutur soal anaknya yang sedang sakit namun enggan membawanya ke rumah sakit. Saya tanya kenapa? Apakah ga punya dana, atau RS yang ga menerima asuransi, atau nggak percaya lagi sama rumah sakit.Secara tak terduga, jawaban terakhir itu lah yang terlontar dari postingan teman saya itu. Walhasil, dia pernah punya pengalaman kurang menyenangkan dengan rumah sakit. Saat di RS, anaknya dikenakan berbagai macam tes, padahal gak ada hubungannya sama sekali dengan penyakitnya.Postingan teman yang lain di grup tersebut juga mengungkapkan dia pantang mengimunisasikan anaknya, karena dianggapnya merupakan pembodohan dari negara maju. Hal ini juga pernah disindir mantan Menkes yang kini jadi pesakitan yang menjadi musuh  AS  saat itu, saat dia menelurkan aturan yang mengharuskan perusahaan farmasi asing mendirikan pabrik peracikan obat di dalam negeri.Setidaknya ada 10 perusahaan farmasi Amerika Serikat yang beroperasi di Indonesia saat itu, termasuk di antaranya Pfizer dan Merck, dua raksasa farmasi di Wall Street.

 

Di Indonesia, mereka memperebutkan pasar farmasi yang angkanya ditaksir US$3,9 miliar pada 2011. Angka yang besar untuk kompetitor yang sedikit, yaitu kurang dari 100 perusahaan farmasi.Sakit memang kalau disikapi lebih bijak bisa jadi anugerah bagi kita. Lho, kenapa? karena terkadang dari sakit itu kita bisa mensyukuri di saat kita sehat.Beda dengan tetangga kampung saya yang memang sangat kekurangan, maka sakit bagi dia bisa berarti musibah. Kalau tetap nekad ke RS, maka alamat dia ga bisa pulang karena harus melunasi terlebih dahulu pembayarannya, apalagi kalau RS menarik dulu uamg muka sebelum simiskin dirawat.Bila difikir-fikir, benar juga apa kata temen saya yang di atas tadi, kalau seorang menteri kesehatan harus selalu sehat karena begitu kompleksnya permasalahan yang ada. Belum lagi para dokter yang sudah bukan rahasia lagi main mata dengan produsen obat atau vonis sakit yang salah tapi nggak mau disalahkan.Saat saya melamun itu, tiba-tiba dari radio taksi yang saya tumpangi, terdengar ungkapan Presiden SBY bahwa dia menerima pengunduran diri Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih. "wah, menkes sakit itu mungkin kualat dengan Menkes yang sudah lolos tes waktu 2009 lalu di Cikeas," gumam sang sopir taksi.Kaget saya, pasti yang dimaksud sang sopir yang ternyata bekas pegawai bank yang sudah di PHK itu adalah Nila Djuwita Moeloek yang sudah lulus audisi di Cikeas tapi malah gagal jadi Menteri. Sampai di tujuan, saya pun ngeloyor pergi dan meninggalkan uang kembalian untuk tips sang sopir taksi.(api) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top