TKI tewas diberondong POLISI DIRAJA MALAYSIA

 
Jessica Nova
Jessica Nova - Bisnis.com 26 April 2012  |  22:37 WIB

 

JAKARTA: Fakta kematian TKI di Malaysia ditemukan ketiganya diberondong peluru oleh lima orang Polisi Diraja Malaysia.

 

Hasil penelusuran Direktur Pengamanan Kedeputian Perlindungan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Brigjen (Pol) Bambang Purwanto di Malaysia pada 24--25 April 2012 menyatakan hal itu.

 

Hal itu disampaikan Bambang seusai kembali dari Malaysia, terkait dengan kematian 3 orang secara sadis, yakni Herman (34 tahun) dan Abdul Kadir (25 tahun), asal Dusun Pancor Kopong, Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, NTB, serta Mad Noor (28 tahun) dari Dusun Gubuk Timur, Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur.

 

Untuk menelusuri prosedur penembakan tiga TKI yang tidak wajar itu, Bambang sempat mendatangi kantor kepolisian setempat di Malaysia dan mendapatkan keterangan akan diumumkan pihak berwenang di negara itu.

 

"Aparat Kepolisian Diraja Malaysia hanya menegaskan secepatnya, tapi untuk soal persis waktunya tidak disampaikan," ujar Bambang di Jakarta pada Kamis, 26 April 2012.

 

Menurut dia, penembakan pada 3 orang TKI terjadi di area Port Dickson (pelabuhan), Negeri Sembilan, Malaysia terjadi pada 24 Maret 2012 sekitar pukul 05.00 waktu setempat.

 

"Ternyata penembakan dilakukan atas dugaan para TKI melakukan upaya perampokan di kawasan Kampung Tampin Kanan Tinggi, Port Dickson, Negeri Sembilan," ungkap Bambang.

 

Saat ketika diberondong tembakan, dia menambahkan ketiga orang TKI diketahui polisi menggunakan masker di wajahnya, membawa parang, serta menggunakan sarung tangan.

 

Keterangan yang diperoleh Bambang juga menyebutkan, para TKI berusaha melawan hingga polisi melepaskan tembakan berkali-kali ke bagian wajah dan tubuh atau dada, yang kemudian membuat ketiganya meninggal dengan cara mengenaskan.

 

Jasad para TKI lalu dibawa ke Rumah Sakit Port Dickson, tapi tidak dilakukan tindakan otopsi langsung karena ketiadaan data diri.

 

Otopsi baru dilakukan pada 26 dan 27 Maret 2012, setelah dinyatakan oleh Wildan selaku keluarga para korban di samping penegasan seorang majikan (pengguna) bernama Lim Kok Wee, yang juga mengenal Abdul Kadir sebagai pekerjanya saat keduanya ke rumah sakit dengan diantar petugas polisi, 25 Maret 2012.

 

Otopsi pertama pada 26 Maret terhadap dua jenazah, yaitu Abdul Kadir dengan ditangani oleh dokter Mohd Khairul Izzati Omar dan jasad Herman diotopsi dokter Muhammad Huzaifah Rahim.

 

Selanjutnya pada 27 Maret, giliran jasad Mad Noor yang diotopsi dokter Safooraf.

 

"Hasil otopsi menyimpulkan mereka tewas oleh tembakan berkali-kali di bagian kepala maupun tubuh korban," tutur Bambang.

 

Adapun sijil (sertifikat kematian) menyangkut ketiga TKI diterbitkan rumah sakit pada 26 Maret untuk almarhum Abdul Kadir dan Herman, sedangkan sijil almarhum Mad Noor terbit pada 27 Maret. (ea)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Marissa Saraswati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top