LIBYA & IRAK 'ngebet' beli SENJATA RUSIA

MOSKOW: Libya dan Irak terus menunjukkan minatnya untuk membeli persenjataan buatan Rusia meskipun terjadi perubahan rezim di negara-negara itu, kata Wakil Perdana Menteri Dmitry Rogozin, Selasa."Pimpinan militer Libya dan pemerintah Irak telah
News Editor
News Editor - Bisnis.com 25 April 2012  |  02:04 WIB

MOSKOW: Libya dan Irak terus menunjukkan minatnya untuk membeli persenjataan buatan Rusia meskipun terjadi perubahan rezim di negara-negara itu, kata Wakil Perdana Menteri Dmitry Rogozin, Selasa."Pimpinan militer Libya dan pemerintah Irak telah menunjukkan minat yang serius [dalam persenjataan Rusia]," kata Rogozin, yang mengawasi industri pertahanan Rusia, kepada wartawan di Moskow.Setelah jatuhnya rezim Saddam Hussein di Irak dan rezim Muammar Gaddafi di Libya, banyak ahli yang mengisyaratkan bahwa Rusia kehilangan kedua pasar senjata yang menguntungkan.Rusia dilaporkan kehilangan sekitar empat miliar dolar AS dalam penjualan senjata ke Libya pada masa setelah perang saudara tahun 2011. Pihak berwenang Libya baru telah berulang kali mengatakan mereka tidak tertarik untuk membeli persenjataan Rusia.Rogozin mengatakan, Libya berminat pada persenjataan pertahanan yang sangat spesifik."Kami yakin bahwa kepemimpinan militer Libya mempercayai persenjataan ini, yang terbukti sangat handal," katanya."Itu sebabnya mengapa mereka tertarik dalam memulihkan kerja sama teknik militer dengan Rusia, dan kami menyambutnya, " kata Rogozin.Dia menambahkan Rusia akan terus berupaya keras untuk mendapatkan kontrak kembali dengan rezim yang menggulingkan Gaddafi.Rogozin juga mengatakan bahwa Irak telah menunjukkan minatnya untuk membeli persenjataan Rusia dan peralatan untuk operasi antiterorisme.Dia mengatakan Menteri Pertahanan Irak Sadoun al-Dulaimi baru-baru ini mengunjungi Rusia dan membahas kerja sama teknik-militer bilateral negara pada saat ini dengan para pejabat Rusia. (ANTARA/RIA Novosti-OANA/arh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswire

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top