KERAJINAN PERAK: Omzet perajin Bali terancam turun 30%

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 02 April 2012  |  18:53 WIB

 

DENPASAR: Omset perajin perak di Celuk Bali terancam turun 30% akibat krisis ekonomi global yang juga mendongkrak kenaikan bahan baku.
 
Ketut Dharma Eka Putra Siadja, Wakil Ketua Umum Bidang Ekonomi Kreatif dan Jasa Lainnya Kadin Bali,   membenarkan adanya penurunan penjualan 30% pada industri kerajinan perak. 
 
“Penurunan itu bisa dikatakan cukup drastis namun perajin perak masih bisa bertahan meskipun krisis ekononomi global masih berlangsung dalam beberapa tahun ke depan,” katanya hari ini.
 
Menurut Putra Siadja, dalam menjalankan roda bisnis perajin perak harus bertahan dengan tetap kreatif, menghasilkan inovasi terbaru, punya strategi bisnis, dan promosi.
 
Kurang lebih dalam kurun waktu tiga tahun kondisi ini akan kembali seperti semula. Kata dia harga bahan baku yang saat ini agak susah hingga harga per kilogramnya pun melonjak tajam hingga tiga kali lipat jika dibandingkan dengan tahun 2009,” jelasnya.
 
Putra Siadja menambahkan dalam kurun waktu tiga tahun diharapkan pengusaha dan perajin perak mampu melakukan perbaikan seperti efisiensi terhadap penggunaan bahan baku dan sumber daya manusianya.
  
Salah satu pemilik industri perajin perak di Celuk I Anom Astabrata mengatakan omset penjualan menurun jauh dan dampaknya saling berkaitan. “Bahan baku luar biasa kenaikannya sejak dua hingga tiga tahun terakhir sehingga berdampak pada penjualan yang menurun drastis,” ujarnya. 
 
Akibat krisis tersebut, lanjutnya, orang lebih memilih membeli barang lain dibandingkan dengan membeli perak. “Bahan baku ikut naik otomatis diikuti dengan kenaikan harga produksi, sehingga orang lebih memilih atau fokus dengan membeli yang lain.”
 
Di samping itu, kesulitan memperoleh bahan baku juga menjadi kendala. “Bahan baku perak dibeli dari Lombok, Bogor, Sumatera bahkan untuk permata sebagai tambahan dari daerah Kalimantan dan impor dari luar.”
 
Dia mengisahkan sebelum krisis global, sebulan bisa memesan hingga 20 kg bahan baku perak, sekarang hanya 6-10 kg. Harga bahan baku perak berkisar hingga Rp9,7 juta.
 
“Krisis tersebut juga berdampak kepada pelanggan yang biasa memesan dalam jumlah besar, sekarang tidak pernah kembali lagi untuk memesan,” katanya. (sut)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Steffi Purba

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top