UKM GARMEN keluhkan harga bahan baku

 
News Editor | 02 April 2012 17:14 WIB

 

BANDUNG: Pembatalan kenaikan harga bahan bakar minyak ternyata tidak membuat harga bahan baku garmen, seperti benang, kain dan pewarna berhenti bergejolak. Perajin skala usaha kecil menengah (UKM) di Jawa Barat justru mengeluhkan harga bahan baku produk garmen yang malah terus merangkak naik.
 
Harga benang dan kain misalnya, hingga saat ini tercatat sudah naik hingga 20% dibandingkan dengan posisi awal tahun 2012.  
 
Deden Suwega, Ketua I Persatuan Pengusaha Tekstil Majalaya (PPTM) Jawa Barat, mengatakan harga benang saat ini sudah naik mencapai 20% ke harga Rp24.000 per kg.
 
“Tren harga benang, terutama untuk kualitas terbaik terus naik. Pada tahun lalu, harga benang sempat mencapai Rp26.000 per kg yang merupakan rekor tertinggi, dan dikhawatirkan akan terjadi lagi,” katanya kepada Bisnis hari ini.
 
Di Majalaya, terdapat sekitar 140 IKM produsen sarung tradisional. Berdasarkan hitungan PPTM, produksi sarung tradisional di wilayah tersebut mencapai 1 juta potong setiap bulannya.
 
Deden mengatakan kebutuhan benang setiap anggotanya tidak sama, tergantung kapasitas produksi masing-masing perusahaan. “Yang pasti kebutuhan benang cukup tinggi. Akibat biaya bahan baku naik, otomatis ongkos produksi ikut terdongkrak,” ujarnya.
 
Deden mengatakan biaya bahan baku berkontribusi sekitar 50% terhadap total biaya operasional.
Menurut dia, perajin bisa sedikit bernafas lega karena pemerintah menunda rencana menaikkan tarif dasar listrik dan harga BBM. 
 
Apabila, ujarnya, dua komponen tersebut naik secara bersamaan, otomatis biaya operasional secara langsung akan semakin membengkak.
 
“Efek dominonya menjadi luas, seperti tuntutan menaikkan upah pekerja. Kondisi industri sarung sedang lesu, karena harus bersaing dengan produsen besar,” katanya.
 
Sementara itu, Ketua Sentra Kaus Suci Marnawi Munarman mengatakan sejumlah bahan baku pembuatan kaus sudah naik 10% - 20% yang otomatis memengaruhi harga penjualan kaus kepada pelanggan.
 
"Harga kain sudah naik sekitar 20%. Sedangkan harga pigmen atau warna sudah naik 10%. Kenaikan ini sudah mulai dua pekan lalu, pada saat rencana harga BBM mau dinaikkan," katanya.
 
Dia menambahkan penjualan sejumlah perajin kaus juga mulai menurun sejak adanya isu kenaikan BBM sekitar tiga pekan lalu. Penurunan penjualan mencapai 20%-30%. "Biasa per hari bisa dapat 2.000 sampai 3.000 kaus. Sekarang mengejar 1.000 sampai 2.000 sudah sulit," ujarnya.
 
Dia mengemukakan saat ini harga jual kaus masih berkisar Rp40.000-Rp50.000 per kaus. Jika harga bahan baku masih naik, dia memerkirakan, harga kaus bisa mencapai Rp60.000 per kaus.
 
"Rencana kenaikan BBM kemarin itu memang terjadi saat dimana penjualan kami memang lagi sepi. Selain itu juga belum memasuki masa sekolah. Mudah-mudahan pada Mei nanti penjualan bisa meningkat," ujarnya. (sut)

Sumber : Dinda Wulandari / Roberto Purba

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top