Dari Zurich ke Milan, kisah cinta tiga jam saja

Kereta yang saya tumpangi melaju kencang selepas dari Stasiun Pusat Zurich, yang ‘tinggal landas’ tepat pada pukul 14.15. Baru meninggalkan wilayah pusat kota Zurich saja, pemandangan sudah begitu indah.Apalagi begitu mulai terasa perjalanan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 24 September 2011  |  07:41 WIB

Kereta yang saya tumpangi melaju kencang selepas dari Stasiun Pusat Zurich, yang ‘tinggal landas’ tepat pada pukul 14.15. Baru meninggalkan wilayah pusat kota Zurich saja, pemandangan sudah begitu indah.Apalagi begitu mulai terasa perjalanan kereta berkelok, agak menanjak, dan tiba-tiba masuk dan keluar dari satu terowongan ke terowongan lain yang begitu panjang. Di sisi kiri dan kanan jalur kereta, pemandangan begitu indah.Pegunungan Alpen yang membentang dari utara ke selatan, begitu banyak danau yang berwarna biru—benar-benar biru bening—nyaris tidak ada kotoran, saya saksikan di sepanjang perjalanan.Benar-benar menakjubkan. Perjalanan musim panas di Swiss memang merindukan. Tidak tampak salju kecuali sedikit di puncak pegunungan, tetapi kali-kali yang jernih, danau-danau yang membiru dan pegunungan yang cadas dan ‘angker’ menjadi pemandangan yang ternyata tidak kalah menakjubkan.Sesekali, jalur kereta beririsan, berpapasan, bersilangan dan beriringan dengan jalur jalan bebas hambatan, yang menghubungkan kota-kota dari wilayah Swiss ke Italia dan sejumlah kota Eropa lainnya. Anda tentu sudah tahu, Swiss berbatasan dan berdekatan dengan Italia, Jerman, Belanda dan Belgia.Hamparan rumput diselingi perdu dan sesekali kebun anggur tampak menghijau. Langit biru yang cerah menambah indah dan memanjakan mata kita. Tak tampak polusi udara seperti di Jakarta.Tiga jam perjalanan dengan kereta menjadi tak terasa. Tepat jam 17.15 waktu setempat saya tiba di stasiun sentral Milan. Belum begitu gelap, tetapi sebenarnya sudah senja.Saya pun harus buru-buru jika ingin menikmati suasana kota Milan. Semalam saja. Sebenarnya menyesal saya tidak booking tiket kereta sejak awal, sehingga bisa tiba di Milan pada setidaknya siang hari. Kebetulan hari itu adalah Sabtu, sehingga kursi kereta habis diborong warga Zurich yang hendak bepergian ke Milan.Saya, bersama Ahmad Djauhar, kolega di Bisnis Indonesia, akhirnya kebagian jadwal kereta siang. Beruntung masih ada seat sehingga kami bisa melakukan perjalanan ke Milan setelah selama dua hari mengikuti konferensi tentang newsroom di Zurich.Sore itu, saya dan Djauhar ‘berpisah’ mencari tujuan masing-masing. Saya sempat berkeliling Milan, sampai menemukan stadion San Siro, tempat bermain AC Milan yang jadi ‘pesanan’ anak saya. Megah juga, ternyata.Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, setelah puas berkeliling Milan selepas dari San Siro. Setelah kecapaian, saya istirahat di salah satu hotel di Milan, dan pagi-pagi sudah harus bangun karena jadwal kereta kembali ke Zurich adalah pukul 09.00.Maka berdua dengan Djauhar, saya berencana melihat Plasa Milano sebelum ke stasiun untuk kembali ke Zurich. Dengan kereta bawah tanah, kami menuju tempat itu. Kami tak punya waktu lama. Hanya sekitar 30 menit. Kami harus buru-buru ke stasiun subway kembali, karena khawatir ketinggalan kereta.Karena asyik mengambil foto, kami defisit waktu. Kami harus lari tunggang langgang di stasiun Milan, sampai bisa naik ke gerbong kereta kembali ke Zurich. Benar. Jadwal kereta sangat tepat waktu. Dengan terengah-engah, kami berhasil berada dalam gerbong kereta, beberapa detik kemudian pintu tertutup dan keretapun jalan.  Andai saja satu menit lewat, kami pasti tertinggal kereta…Tentu saja, saya begitu menikmati perjalanan ini. Kisah cinta tiga jam, saya jadi ingat petikan lagu Anyer-Jakarta, yang dilantunkan Sheila Madjid, itulah yang saya rasakan.

Ya, saya makin jatuh cinta pada ketepatan waktu, keteraturan infrastruktur, keindahan alam, dan tentu saja, keagungan Tuhan. (api) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Arief Budisusilo

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top