Inovasi butuh 'amunisi'

"Inovasi tidak berasal dari uang. Inovasi berasal dari orang-orang. Akan tetapi berinovasi tanpa uang adalah sesuatu yang mustahil, terutama dalam dunia teknologi tinggi."Dengan langgam sederhana ala 'Melayu', kita kerap menerjemahkan
Matroji
Matroji - Bisnis.com 14 September 2011  |  20:16 WIB

"Inovasi tidak berasal dari uang. Inovasi berasal dari orang-orang. Akan tetapi berinovasi tanpa uang adalah sesuatu yang mustahil, terutama dalam dunia teknologi tinggi."Dengan langgam sederhana ala 'Melayu', kita kerap menerjemahkan kutipan di atas dengan istilah 'UUD' atau 'ujung-ujungnya duit'. Segala-segalanya harus pake duit. Begitulah kira-kira.Namun apa yang dikemukakan oleh Jeffrey L. Cruikshank dalam bukunya berjudul The Apple Way, 12 Pelajaran Manajemen Dari Perusahaan Paling Inovatif di Dunia itu benar adanya.Konsultan papan atas di negeri Paman Sam itu memang mengisahkan perjalanan Apple sebagai raksasa teknologi informasi yang telah mengubah cara dan gaya orang di seluruh dunia dalam bermultimedia. Jurus yang sama bisa saja ditemukan di korporasi global lainnya macam Toyota, Exxon, Singapore Airlines, HP, P&G atau Fiat.Mengapa mustahil tanpa uang? Cruikshank mengingatkan bahwa para pesaing bersedia membayar berapa pun yang diperlukan untuk mencuri para teknisi dan insinyur terbaik Anda.Untuk mempertahankan para tenaga kerja yang potensial dan berbakat itu berarti Anda harus siap memberikan gaji yang kompetitif. Itu belum cukup. Anda juga harus mau mengeluarkan uang untuk hal-hal menarik yang dapat membuat para profesional berbakat bekerja dengan bahagia.Perusahaan-perusahaan di Indonesia juga sudah banyak yang berkomitmen tinggi pada inovasi, sehingga benar-benar serius menjalankannya. Dana yang tidak sedikit dialokasikan khusus untuk itu.Sayangnya, tidak sedikit pula manajemen yang masih sebatas 'omong doang' dalam menyikapi inovasi. Karyawan dituntut untuk berinovasi tetapi infrastruktur mendasar sebagai prasyarat bagi profesional agar bisa bekerja dengan nyaman jauh dari memadai.Karyawan diminta mewaspadai terus gerak-gerik pesaing agar jangan sampai dipecundangi. Namun kecepatan dan modal pesaing makin sulit ditandingi. Lebih-lebih, pesaing juga bisa dengan mudah mengetahui isi perut para kompetitornya yang terengah-engah dari para profesional berbakat  yang berhasil dicurinya.So, marilah berguru kepada 'ahlinya'. Salah satu gambaran paling jelas mengenai pengeluaran Apple untuk litbang dinyatakan oleh CEO Fred Anderson pada forum US 2003 Technology Conference. Pada tahun fiskal 2003, Anderson mengemukakan bahwa divisi litbang Apple menghabiskan tak kurang dari US$500 juta, naik 42% dibandingkan dengan di masa-masa sulit (1999).Dari total dana tersebut, 49% dihabiskan untuk mengembangan piranti keras, 29% untuk sistem operasi Mac, dan sisanya dibelanjakan untuk pengembangan aplikasi.Pada saat yang sama rivalitas Apple dan Dell kian seru. Saat itu Apple berprinsip untuk selalu memperbarui sistem operasinya. Adapun bagi Dell, itu merupakan pos pengeluaran yang sepenuhnya dihindari. Komparasi lainnya, pada 2003 penjualan Apple sekitar seperlima penjualan Dell  tetapi anggaran litbang kedua perusahaan tersebut hampir sama, dalam mata uang yang sama pula.Dengan kata lain, menurut Cruikshank, Apple membelanjakan 8% dari penjualannya untuk litbang, sementara Dell hanya sekitar 1,5%.  Lalu apa kabar dengan inovasi bangsa ini?Berdasarkan International Innovation Index 2009, Indonesia menempati posisi ke-71 dari 108 negara, jauh tertinggal dibanding negara lain. Bahkan di kawasan ASEAN pun, kita tertinggal dari Singapura yang berada di peringkat pertama, Malaysia (21), dan Thailand (44). Artinya, inovasi belum menjadi ujung tombak dalam membangun daya saing industri nasional.Tumpulkah kita dalam berinovasi? Tidak juga. Kita tidak melempem. Pada 2008 Kementerian Negara Riset dan Teknologi pernah menerbitkan buku 100 Inovasi Indonesia. Bahkan ada banyak sekali inovasi yang siap untuk diaplikasikan di sektor produksi seperti KWH meter yang mampu mencatat pemakaian listrik secara digital, blok rem komposit kereta api dengan komponen lokal mencapai 90%, proses membuat batik fraktal yang memadukan seni tradisional, konstruksi sarang laba-laba (fondasi untuk daerah rawan gempa) atau teknologi pipa apung untuk transportasi fluida.Mengapa segudang inovasi tersebut tidak malah menjadikan bangsa ini lebih kompetitif? Tampaknya ada jurang yang memisahkan dunia penelitian dan dunia usaha,  sehingga berbagai produk inovatif tersebut tidak marketable.   Kita berharap pemerintah benar-benar memainkan perannya untuk mencari terobosan yang market friendly agar dunia usaha nasional terpacu mengembangkan lebih lanjut inovasi yang dihasilkan dunia penelitian. Bukankah kita sudah memiliki Sistem Inovasi Nasional?    Bila kita terus-terusan lengah dalam mengapresiasi berbagai inovasi produk anak negeri, bangsa ini akan semakin tertinggal. Temuan-temuan itu, seperti yang telah terjadi, diklaim tanpa ampun sebagai milik negara lain, korporasi asing atau bahkan perorangan sekalipun.Akhirnya kita cuma bisa gigit jari…(inria.zulfikar@bisnis.co.id) 

*) Tulisan ini diadopsi dari harian Bisnis Indonesia. Untuk membaca berita-berita dan memperoleh referensi terpercaya dari Bisnis Indonesia, silahkan klik epaper.bisnis.com, dan Anda juga bisa berlangganan dengan register langsung ke koran Bisnis Indonesia edisi digital.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top