Program BBG mobil butuh kajian matang

manda
manda - Bisnis.com 27 Desember 2010  |  08:05 WIB

Normal 0

JAKARTA: Program konversi bahan bakar minyak ke gas bagi kendaraan bermotor membutuhkan persiapan dan kajian yang matang dari pemerintah, termasuk ketersediaan infrastruktur pengisian bahan bakar yang memadai.

Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Joko Trisanyoto mengatakan keberhasilan program konversi bahan bakar gas (BBG) pada kendaraan sangat bergantung pada infrastruktur yang dibangun dan dikembangkan oleh pemerintah.

Kalau mobil pribadi tentunya infrastruktur yang dibangun harus menyebar ke daerah-daerah karena kendaraan pribadi berkeliaran ke mana-mana. Untuk kendaraan umum infrastruktur bisa terpusat. Jadi bergantung pada aturan yang dikeluarkan pemerintah, katanya kepada Bisnis hari ini.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) Jongkie D. Sugiarto mengatakan kalangan agen tunggal pemegang merek (ATPM) dipastikan siap melakukan konversi ke BBG.

Namun, menurut dia, hal terpenting yang harus dilakukan pemerintah adalah membangun stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) secara merata dan memadai, sehingga pengguna kendaraan mudah menjangkau infrastruktur ini.

Selain itu, lanjut Jongkie, supaya tingkat efisiensi tercapai, harus ada perbedaan harga antara bensin (premium/diesel) dan gas dengan kisaran 40%. Ini karena harga converter kit saat ini mencapai Rp15 juta, tergantung merek dan volume tangki.

Kalau mau subsidi harus tepat sasaran. Tidak ada gunanya mensubsidi konverter kalau tidak ada SPBG-nya karena pengguna yang sudah memasang mau mengisi bahan bakar di mana? Kalau mengisi bahan bakar masih jauh, konsumen akan kembali menggunakan bensin karena bisa dual system, tutur Jongkie.

Apabila syarat-syarat itu diperhatikan, dia yakin konsumen akan memasang konverter dan beralih menggunakan BBG karena biaya operasi jauh lebih rendah dan tanpa harus diminta oleh pemerintah.

Joko menambahkan secara kelayakan, penerapan konversi BBG pada tahap awal lebih mudah untuk diterapkan pada kendaraan umum, karena infrastruktur yang dibangun dapat dipusatkan pada satu daerah atau titik tertentu.

Lalu apakah nanti kebijakan yang diterapkan penuh konversi BBG atau sistem campuran [antara BBG dan BBM] yang menggunakan converter kit. Di Jepang seluruh taksi menggunakan BBG. Kalau menggunakan konverter, mobil masih bisa mengonsumsi BBM dan BBG, ini lebih mudah secara aplikasi, paparnya. (hl)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top