Antiklimaks SBY-Sultan

Saya tengah menyiapkan sarapan ketika terdengar suara sirene mobilisasi, meraung-raung dari pengeras suara di koridor, disertai pengumuman dalam bahasa Indonesia dan Inggris bahwa telah terjadi kebakaran dan penghuni apartemen diminta segera meninggalkan
Adam A. Chevny | 18 Desember 2010 01:49 WIB

Saya tengah menyiapkan sarapan ketika terdengar suara sirene mobilisasi, meraung-raung dari pengeras suara di koridor, disertai pengumuman dalam bahasa Indonesia dan Inggris bahwa telah terjadi kebakaran dan penghuni apartemen diminta segera meninggalkan unit masing-masing menuju tangga exit untuk evakuasi.

"Ah, paling-paling simulasi. Sepuluh menit lagi keributan ini akan berlalu," kata saya dalam hati sambil terus mengoles roti dengan mentega, memotong tomat, telur rebus, dan mencari-cari keju lembaran di kulkas.

Sepuluh menit berlalu, 20 menit, 30 menit, seruan evakuasi berlanjut, tak putus-putus. Jangan-jangan ini kebakaran beneran. Saya putuskan mengecek sendiri kondisi di luar. Beberapa tetangga saya lihat bergegas menuju tangga, sedangkan petugas evakuasi dengan walky talky di tangan meminta saya segera mengosongkan unit.

"Beneran pak, kebakaran?" kata saya, masih tak percaya.

"Benar! Silakan segera turun lewat tangga."

"Di lantai berapa pak?"

"Sebaiknya ibu secepatnya turun."

Duhturun 30 lantai dan lift pasti nggak jalan. Dengan cepat saya sambar tas tangan, mengunci pintu, lalu menuju tangga. Saya sempat bertemu dengan dua orang kakek yang terbengong-bengong di koridor melihat keriuhan yang terjadi.

"Kebakaran pak, cepat turun," kata saya sambil membuka pintu menuju tangga. Saya tak tahu apakah kedua kakek itu ikut turun, atau tetap melongo karena tak mudeng.

Saya memutuskan berjalan pelan-pelan menuruni anak tangga satu persatu, sambil berbicara dengan diri sendiri: Nggak perlu cepat-cepat, nanti napas cepat habis. Namun, begitu ada satu dua orang turun dengan berlari, saya pun mulai ikut-ikutan melangkah lebih cepat, sampai kemudian sadar karena mulai terengah-engah

Masalah muncul pada pasangan yang jomplang dari segi umur. Seorang remaja berlari di tangga, sementara ayahnya pelan-pelan asal kelakon. "Sedikit lagi ayah, sedikit lagiayoooo" katanya menyemangati bapaknya, dengan nada suara dibuat sesabar mungkin.

Ada yang mengaku sedang sakit tetapi harus turun juga, atau yang merasa malu masih memakai piyama karena tak sempat ganti baju. Ada pula korban mode, memakai selop hak tinggi dan mengeluh tak henti bahwa kakinya sakit.

Seorang bapak bercerita putranya sama sekali tidak peduli. Dia sampai berteriak meminta anaknya turun, tetapi sang anak dengan cuek melanjutkan permainan playstation-nya"Anak sekarang susah diyakinkan. Dia malah suruh saya telepon begitu saya sampai di bawah," kata sang bapak yang wajahnya bermandikan peluh itu.

Sambil terus menapaki tangga satu demi satu, orang juga membahas yang terbakar sebenarnya unit di lantai berapa. Katanya di lantai 7, ada juga yang bilang lantai 27.

Sampai di lantai lima lutut saya mulai gemetar, tetapi tak ada pilihan, saya paksakan juga melangkah dan akhirnya sampai di tangga paling akhir, di lantai dasar.

Di mulut pintu berderet petugas dengan walky talky, wajah tegang, dan suara tegas mengarahkan semua orang untuk lanjut ke area terbuka di depan lobi utama.

Ketika berjalan menuju lobi, bau terbakar menyergap hidung saya

******

Warga Yogyakarta seperti kebakaran jenggotartinya bingung tak keruan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia gara-gara pernyataan pimpinan nasional mengenai monarki dan demokrasi. Banyak yang bilang, kok saat korban Merapi membutuhkan perhatian besar , Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah ngomongin status istimewa Yogyakarta?

Terhitung dalam waktu kurang dari 1 bulan Presiden bicara sampai dua kali mengenai RUU tentang Daerah Istimewa Yogyakarta.

Presiden merasa media massa tidak menyampaikan pesannya secara benar (memang paling mudah menyalahkan media ya pak) sehingga maksudnya tidak ditangkap secara proporsional.

Presiden mengatakan Indonesia adalah negara hukum dan negara demokrasi.

"Oleh karena itu, nilai-nilai demokrasi, democratic values, tidak boleh diabaikan karena tentu tidak mungkin ada sistem monarki yang bertabrakan dengan, baik konstitusi maupun nilai-nilai demokrasi."

Nah, kalimatnya ini menimbulkan tanda tanya. Maksudnya, monarki itu pasti nggak demokratis atau demokrasi tak cocok dengan monarki sehingga bertabrakan? Lha kan sudah ada (banyak) negara di Eropa menerapkan sistem pemerintahan monarki konstitusionil. Monarkinya terus hidup, sementara demokrasi lewat pemilihan bebas juga berjalan dengan baik. Semua happy

Warga Yogya juga happy-happy aja kok kecuali saat Merapi meletus dan itu, ketika SBY meletuskan ucapannya soal monarki-demokrasi...

Pernyataan presiden, yang mungkin maksudnya lebih ke arah moralitas politik, jadi menimbulkan dugaan bahwa maksudnya sebenarnya nggak kesitu, bahwa dia nggak sincere. Orang menyinggung tentang friksi politik antara dia dan Sultan. Kan Sultan aktif berpolitik lewat kendaraan lainyang bukan parpolnya SBYmengkeritik pemerintah.

Diskursus mengenai keistimewaan atau status khusus daerah lain pun menyeruak, dikait-kaitkan dengan banyak hal, termasuk masa depan keutuhan Indonesia. Persatuan yang selama ini ada lebih bersandar pada konvensi, hasil kesepakatan para pendiri bangsa, kata para ahli politik, sehingga dasarnya rapuh.

Hubungan pusat dan daerah pun seperti Tom and Jerry. Saling curiga, saling intip. Gerakan warga lokal memperjuangkan nasib agar lebih baik, dengan cepat diberi label separatis oleh pemerintah pusat, sementara persinggungan dengan pemerintah pusat dengan cepat pula menyulut reaksi penolakan dari daerah.

Lihatlah bagaimana cepatnya simbol-simbol kemerdekaan Yogya bermunculan.

Belakangan, persoalan RUU Keistimewaan Yogyakarta telah menjadi perang mulut tak bermutu di Senayan antara politisi Partai Demokrat, partainya SBY, dan partai-partai oposisi yang mendukung penetapan Sultan sebagai pemimpin Yogya. Mereka tak mempersoalkan esensi masalah tapi siapa yang bicara.

Untunglah di tengah hiruk pikuk perdebatan ilmiah maupun sok ilmiah tentang keistimewaan DIY, ada suara lain yang rasanya lebih relevan, yakni mereka yang berpendapat hiruk pikuk soal Yogya itu tak lebih dari upaya pengalihan perhatian dari isu yang lebih krusial, yakni penjualan saham Krakatau Steel yang banyak menimbulkan tanda tanya itu.

Rasanya analisis ini deh yang pas, soalnya, apa iya mereka yang berkoar-koar di Jakarta punya nyali menghadapi rakyat Yogya yang fanatik mencintai Sultan dan segala sesuatu yang terkait dengan keraton?

Paling-paling RUU Keistimewaan Yogyakarta diterima dalam bentuk seperti dugaan banyak orang: Penetapan Sultan sebagai gubernur, bukan pemilihan.

Begitulah. Awalnya memang seru, tapi ujungnya melempemAntiklimaks.

****

Saat saya masih memikirkan sumber kebakaran, terdengar suara tepuk tangan dari lapangan rumput di sisi kanan lobi apartemen.

Di area terbuka itu tampak tenda besar berwarna putih dan kursi lipat berjejer rapi, sebagiannya terisi. Kain tenda berkibar-kibar ditiup angin yang cukup kencang.

Di depan kursi ada meja-meja dengan air aqua gelas di atasnya. Orang-orang di situ menyoraki beberapa petugas yang berupaya memadamkan api yang membakar sampah di tong-tong besar persis di depan tenda Asapnya menyebar ke mana-manaJadi, ini rupanya bau terbakar yang menyengat tadi.

Saya menatap segalanya dari jauh, tak mampu lagi melangkah. Kirain kebakaran beneranAntiklimaks! (huberta.linda@bisnis.co.id)

Oleh Linda TangdiallaWartawan Bisnis Indonesia

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top