Setelah penjarakan polisi, JJ Rizal gugat politisi

JAKARTA: Setelah tahun lalu melaporkan polisi karena kasus salah tangkap sehingga 3 anggota Polsek Beji, Depok, dipenjara, budayawan J.J. Rizal menggugat politisi PKS Igo Ilham yang dinilai membangun suasana apriori dan merendahkan suku bangsa Betawi
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Desember 2010  |  07:50 WIB

JAKARTA: Setelah tahun lalu melaporkan polisi karena kasus salah tangkap sehingga 3 anggota Polsek Beji, Depok, dipenjara, budayawan J.J. Rizal menggugat politisi PKS Igo Ilham yang dinilai membangun suasana apriori dan merendahkan suku bangsa Betawi dalam sebuah forum ilmiah.

Rizal menjelaskan bahwa Igo Ilham dalam pidato kuncinya memperdengarkan perkataan yang membangunkan suasana apriori dan merendahkan suku bangsa Betawi di tengah peserta forum Sarasehan Fatahillah yang mayoritas adalah pelajar dan pemuda, pada hari Sabtu, 5 Desember 2010 di Ruang UPT Kota Tua, kompleks Museum Sejarah Jakarta, dengan panitia penyelenggara UPT Kota Tua dan Ruha Fatahilla.JJ Rizal dan Rakhmad Zailani Kiki, peneliti di Jakarta Islamic Center, kolumnis di Republika, yang hadir pada acara itu dan kemudian mengungkapkannya ke masyarakat. Igo dalam pidatonya menyatakan bahwa orang Betawi berutang budi kepada Belanda karena berkat Belanda maka ada bangsa Betawi."Ini bukan saja secara historis tidak dapat dipertanggung jawabkan tetapi juga merupakan pembunuhan karakter terhadap etnis Betawi dan menyalahi semangat pluralisme," katanya kepada Bisnis hari ini.Ketika dihubungi siang ini, Igo Ilham tak mengangkat telepon selularnya. Atas kasus penghinaan tersebut, sejumlah organisasi dan tokoh Betawi dan Bamus Betawi membuat pernyataan sikap dan menggelar Pengadilan Publik Arbitrase Kasus Penghinaan Terhadap Suku Bangsa Betawi oleh Igo Ilham (PKS) pada Kamis, 9 Desember 2010 di Gedung Juang, Jakarta.Rizal menyatakan bahwa dia ingin mengungkapkan kasus tersebut karena pernyataan Igo Ilham yang merendahkan suku bangsa Betawi adalah tindakan pembunuhan karakter yang picik dan membahayakan mengingat kedudukannya dalam dua kapasitas yaitu sebagai aktor yang menjadi pemeran utama tokoh Fatahillah yang menjadi ikon masyarakat Betawi-Jakarta.Selain itu, katanya, sebagai wakil rakyat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Berlatar belakang dan memperhatikan kedudukannya itu, kata Rizal, maka Igo Ilham harus menjaga kehormatan dan keharmonisan suku bangsa yang hidup dan tinggal di Jakarta.Rizal menjelaskan bahwa pernyataan Igo Ilham yang dia dengar langsung telah merendahkan suku bangsa Betawi, bukan hanya persoalan yang bersifat lokal, tetapi juga nasional. Sebab dalam kapasitasnya sebagai politikus dari sebuah partai besar di Indonesia, Igo Ilham adalah potret dari fenomena nasional tentang politisi kita yang tidak memiliki historical sense, tidak memahami dan mengerti serta tidak peduli terhadap sejarah.Bahkan, katanya, terkesan meremehkan sejarah dan karena itu bersikap menafikan sejarah sebagai perbendaharaan kultural peradaban bangsa, sumber etika dan tatakrama dalam berbangsa dan bernegara sebagaimana diamanatkan sebagai nilai-nilai kemerdekaan.Rizal memandang Igo Ilham--juga banyak politisi lainnya yang tidak memiliki kesadaran sejarah--tidak tahu sama sekali kesadaran sejarah yang berkedudukan fungsional untuk menopang kontinuitas nilai sebagai prinsip esensial bagi pembentukan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia dengan manusianya yang bermartabat.Dalam konteks itu, katanya, terasalah betapa celaka karena justru ketiadaan kesadaran sejarah itu tengah hebat-hebatnya menjangkiti pada para politisi yang menduduki jabatan penting, di mana di tangan mereka tergantung nasib harapan mulia masyarakat.Dia menyatakan tujuan mengungkapkan kasus itu bukan saja untuk melakukan koreksi, akan tetapi guna memberitahukan dan peringatan kepada masyarakat luas tentang politisi yang terlanda penyakit hongerodim atau busung lapar sejarah. "Suatu penyakit yang besar sekali bahayanya jika telah melanda para pemimpin bangsa. Sebab pemimpin yang mengidap penyakit itu dalam segala tindakannya hanya membuat kemerosotan rasa nasionalisme yang hebat."Politisi yang mengidap busung lapar sejarah itu tak tahu dan tak mengerti raison detre atau alasan menjadi Indonesia, bahkan merendahkan cita-cita kemerdekaan yang salah satu sendi utamanya adalah menjunjung persatuan dan kesatuan dengan menghormati kebhinekaan.Dia berharap Bamus Betawi memahami alasannya mengungkapkan kasus Igo Ilham yang membangun suasana apriori dan merendahkan suku bangsa Betawi, bukan didorongkan oleh keinginan sesaat atau tujuan politik tertentu, tetapi lebih pada hasrat dan semangat untuk menggugah kesadaran tentang kehancuran nasionalisme, kemerosotan rasa kebangsaan, kemasabodohan terhadap keluhuran nilai keindonesiaan yang kebetulan atas berkat rahmat Allah telah ditunjukkan melalui kasus Igo Ilham yang merendahkan suku bangsa Betawi.Sebab niat menyumbang pada nilai kebangsaan itulah, maka dia meminta Bamus Betawi sebagai organisasi payung dari semua organisasi Betawi tidak membiarkan kasus ini berjalan tak terkendali dan akhirnya menjadi bola liar yang lebih banyak mendatangkan mudharat ketimbang manfaat.Dia ingin Bamus Betawi mengambil alih dan menangani langsung kasus dengan membuat suatu Dewan Kehormatan Betawi yang kuat dan mampu meraih kepercayaan dari masyarakat, di mana dewan ini menjadi satu-satunya saluran resmi suara dan penyikapan Betawi atas kasus Igo Ilham, suara di luar dewan adalah suara liar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.Dewan itu, katanya, juga segera membuat tim investigasi yang bertugas melacak bahan-bahan dan membuat laporan untuk bahan pengambilan sikap dan langkah oleh dewan.Dia berharap Bamus Betawi dan seluruh masyarakat Betawi mampu menjaga dan megemban kasus itu pada jalur yang seharusnya yang akhirnya akan menyumbang bagi penguatan nasionalisme Indonesia, sebagaimana dulu telah ditunjukkan oleh para pejuang Betawi, wabil khusus Muhammad Husni Thamrin.Ketua Bamus Betawi Beky Mardani menyatakan bahwa siang ini Igo Ilham akan dipanggil untuk berdiskusi di sekretariat Bamus Betawi. Bamus Betawi saat ini dipimpin oleh Nachrowi Ramli, mantan Ketua Lembaga Sandi Negara.Sebelumnya Bamus sudah mengecam bahwa tindakan Igo Ilham tidak benar. Surat Pernyataan itu dibacakan oleh Wakil Sekjen Bamus Betawi Azis Khafia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top