Merger Esia-Flexi dinilai tingkatkan potensi pasar

News Editor
News Editor - Bisnis.com 13 Desember 2010  |  06:40 WIB

JAKARTA: Merger Esia-Flexi dinilai akan meningkatkan nilai dan potensi pasar masing-masing layanan meski ada kekhawatiran perusahaan hasil merger akan dijual ke investor dari China dan Korsel.

Sekjen Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setiadi mengatakan secara pembukuan di Telkom tidak ada aset yang dijual, malah nilai dan potensi pasarnya bisa makin besar.

Adapun kekhawatiran Serikat Karyawan Telkom bahwa Flexi terancam dijual ke asing pasca meger, kurang beralasan, dan harus dibicarakan dengan kedua manajemen perusahaan tersebut, ujarnya hari ini.

Dari sisi pelanggan, tambahnya, merger tersebut akan menguntungkan pelanggan karena coverage yang makin luas serta ditunjang dengan kanalisasi frekuensi yang makin lebar.

Wigrantoro mengungkapkan pelanggan tidak akan dirugikan karena merger, karena perubahan manajemen tidak mesti layanan makin buruk.

"Sejumlah operator swasta juga tetap memberikan layanan yang bagus. Sementara Telkom bisa fokus pada portofolio yang lain," ujarnya.

Serikat Karyawan (Sekar) PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) semakin gencar mendesak pembatalan merger Flexi-Esia, dan akan menggelar demonstrasi besar pada 16 Desember.

Ketua Umum DPP Sekar Telkom Wisnu Adhi Wuryanto mengatakan hingga saat ini belum ada respon dari pemerintah terkait dengan desakan yang dilakukan oleh Sekar Telkom.

Penjualan Flexi merupakan penjualan aset negara. Sebaliknya, jika Telkom yang mengambil Esia, itu tidak masalah selama perhitungan bisnis memungkinkan, ujarnya hari ini.

Wisnu mensinyalir apabila merger jadi dilaksanakan, dan BHP berdasarkan pita diterapkan, di mana semua operator akan menjadi seluler, maka Telkom akan terkena kepemilikan silang seperti yang tercantum dalam UU Antimonopoli dan Persaingan Tidak Sehat dan harus melepas salah satu antara Flexi atau Telkomsel.

Dalam hitungan Sekar Telkom, nilai buku Flexi saat ini mencapai Rp9 triliun, dan jumlah tersebut kemungkinan bisa mengalami kenaikan dengan mempertimbangkan variabel yang lain.

Rencana merger antara Flexi dan Esia sejauh ini masih menunggu selesainya suksesi di jajaran direksi Telkom.

Komisaris Utama Telkom Tanri Abeng mengatakan sejauh ini ada dua opsi yang diajukan Telkom, yaitu menjadi mayoritas dalam konsolidasi dua perusahaan itu, atau menjadi minoritas dengan kompensasi dari Grup Bakrie.

Opsi itu diajukan lantaran asset Flexi dinilai lebih besar daripada Esia. Kendati demikian, Telkom kemungkinan memilih mendapatkan kompensasi dana dari Grup Bakrie dalam konsolidasi Flexi-Esia.

Untiuk keputusan finalnya, kami masih melakukan pembicaraan antara Telkom dan Bakrie, ujar Tanri Abeng pekan lalu.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top