Penanganan industri gula dinilai kurang sinergis

JAKARTA: Koordinasi antara lembaga dan kementerian yang bertangggung jawab menangani industri gula dinilai kurang sinergis sehingga menyebabkan target swasembada gula masih sulit terealisasi pada 2014.Demikian disimpulkan Ketua Komisi VI Airlangga Hartarto
Yusuf Waluyo Jati | 08 Desember 2010 07:22 WIB

JAKARTA: Koordinasi antara lembaga dan kementerian yang bertangggung jawab menangani industri gula dinilai kurang sinergis sehingga menyebabkan target swasembada gula masih sulit terealisasi pada 2014.Demikian disimpulkan Ketua Komisi VI Airlangga Hartarto bersama Ketua Panja Gula DPR Aria Bima dalam rapat kerja dengan pemerintah hari ini. Turut hadir dalam rapat itu Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri BUMN Mustafa Abubakar, Menteri Pertanian Suswono, Menteri Perdagangan MS Hidayat dan sejumlah pejabat lainnya. Menurut Airlangga, kurangnya koordinasi tersebut menyebabkan disparitas harga antar pulau kian melebar di samping masih terkonsentrasinya industri gula di Pulau Jawa. "Semua ini mengakibatkan harga gula di luar Jawa sangat mahal. Selain itu, distorsi harga gula konsumsi juga dipengaruhi oleh adanya gula rafinasi yang masuk pasar konsumsi," kata Airlangga.Airlangga juga mengatakan, program yang disampaikan pemerintah untuk swasembada gula selama ini sudah sangat bagus, namun dalam kenyataan program itu tak mendapat hasil apapun. "DPR ingin tahu apa saja masalah dari semua itu, kenapa program ini tidak jalan, alasannya apa?" kata Airlangga.Menurut dia, harga gula juga dipenagruhi oleh kondisi objektif saat ini dimana harga minyak di pasar internasional terus meningkat. Akibatnya, row material tebu tidak saja digunakan untuk menghasilkan gula, tetapi juga untuk sumber energi. Sumber energi itu, ujarnya, digunakan untuk mengimbangi tingginya kebutuhan energi dunia di tengah persediaan minyak dunia yang terus berkurang.Ketua Panja Gula Aria Bima mengatakan sampai saat ini pemerintah tidak punya data yang akurat soal gula sehingga tidak memiliki kebijakan yang jelas. Kami melihat belum jelasnya kebijakan, strategi dan program yang komprehensif, khususnya mengenai pengembangan industri nasional berbasis tebu. Terlihat satu bagian tidak saling mendukung dengan bagian. Lain," tegas Aria. Dia menjelaskan dengan jumlah penduduk 230 juta, Indonesia butuh 4, 85 juta ton gula/tahun dengan rincian 2,70 juta ton konsumsi dan 2,15 juta ton industri. Sementara untuk bisa swasembada tahun 2014, setidaknya Indonesia harus mampu memproduksi gula sebesar 5,7 juta ton/tahun. Sementara saat ini ada 51 perusahaan BUMN dan 9 perusahaan swasta yang bergerak di industri gula.Panja Gula DPR juga menyororti masalah liarnya harga gula di pasaran yang disebabkan oleh karena pemerintah tidak mempunyai sarana yang efektif untuk melakukan inventarisasi dalam menciptakan stabilitas harga gula di tingkat konsumen. (msw)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top