Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Intelijen Barat Sebut Peretas China Mata-Matai Infrastruktur Penting AS

Badan Intelijen Barat menyebut bahwa sebuah kelompok peretas asal China telah memata-matai berbagai organisasi infrastruktur penting milik AS.
Bendera Amerika Serikat dan China berkibar di luar Gedung Putih saat anggota Secret Service berjaga di Washington, D.C., AS, pada Senin, 17 Agustus 2011. Hu Jintao, Presiden China, tiba di Washington untuk kunjungan kenegaraan pertamanya ke AS./Bloomberg
Bendera Amerika Serikat dan China berkibar di luar Gedung Putih saat anggota Secret Service berjaga di Washington, D.C., AS, pada Senin, 17 Agustus 2011. Hu Jintao, Presiden China, tiba di Washington untuk kunjungan kenegaraan pertamanya ke AS./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Intelijen Barat menyebut bahwa sebuah kelompok peretas asal China telah memata-matai berbagai organisasi infrastruktur penting milik Amerika Serikat (AS).

Dalam keterangannya pada Rabu (24/5/2023), Badan Intelijen Barat mengatakan spionase juga menargetkan wilayah AS di Guam, lokasi fasilitas militer AS yang akan menjadi kunci untuk menanggapi setiap konflik di kawasan Asia Pasifik ditempatkan.

Para analisis menilai aktivitas tersebut menjadi salah satu kampanye spionase dunia maya terbesar China terhadap infrakstruktur kritis AS.

Kelompok peretas yang didirikan sejak 2021 itu telah menargetkan beberapa industri penting milik AS, seperti industri komunikasi, manufaktur, utilitas, transportasi, konstruksi, maritim, pemerintahan, teknologi informasi, hingga pendidikan.

Analis Microsoft menduga kelompok peretas yang dijuluki sebagai Volt Typhoon itu tengah mengembangkan kemampuan yang dapat menganggu infrastruktur komunikasi penting antara AS dan negara-negara di kawasan Asia di masa yang akan datang.

“Aktivitas China itu unik dan juga mengkhawatirkan karena analis belum memiliki visibilitas yang cukup tentang kemampuan kelompok ini. Ada kepentingan yang lebih besar karena situasi geopolitik,” ujar Kepala Analisis Ancaman di Mandiant Intelligence Google, John Hultquist.

Menurutnya, China bahkan akan menargetkan jaringan militer AS dan infrastruktur penting lainnya jika negeri tirai bambu itu mulai mengivasi Taiwan.

Berbagai kemungkinan buruk itu membuat Badan Keamanan Nasional AS (NSA) memutuskan untuk menggandeng beberapa mitranya seperti Kanada, Selandia Baru, Australia, hingga Inggris dalam upaya pengidentifikasian pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah China.

Selain itu, NSA juga mendesak perusahaan yang mengoperasikan infrastruktur kritis di AS untuk mengidentifikasi aktivitas jahat dengan panduan teknis yang telah dikeluarkan.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Nancy Junita
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper